logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Kakak Tiriku adalah Manusia Beruang

Pada malam pesta terbesar tahun senior, Helen merasa tidak bersemangat untuk menghadiri pernikahan paksa ibunya dengan seorang pria gunung berbulu dari Bear Creek. Namun, semuanya berubah saat dia bertemu Sam—pria gunung terseksi yang pernah ada—yang sayangnya juga saudara tirinya. Meskipun bertolak belakang dan baru menjadi keluarga, keduanya tertarik dengan satu sama lain. Namun, ketika mereka semakin dekat, Helen menemukan sesuatu: Sam memiliki rahasia yang sulit disembunyikan…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Kelly Lord

 

Kakak Tiriku adalah Manusia Beruang – Kelly Lord

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

HELEN

Dia berdiri di depanku—telanjang.

Sosok pria dewasa yang membuat David Michelangelo terlihat seperti manusia lidi.

Aku menelusuri lehernya yang tebal… Bisep yang menonjol… Perut yang kekar…

Batang panjang yang menjuntai di antara kedua kakinya…

Aku harus menutup mulut agar tidak meneteskan air liur.

Aku melirik wajahnya. Di bawah rambut pirang, matanya yang gelap dan tidak berkedip seakan sedang membacakan soneta Shakespeare.

Kedua matanya seakan menyanyikan seluruh lagu album Ed Sheeran.

Dia menginginkanku.

Dan dia bisa memilikiku.

Di sini, di tengah kelas yang tidak aku pedulikan.

Dikuasai nafsu, aku mendekat.

Nama pria dambaanku terasa seperti gigitan pertama sundae panas…

“PROFESOR HAMMOND!”

Suara Brittany—yang memiliki nada suara seperti paku yang digesekkan ke papan tulis atau chihuahua yang sekarat—tiba-tiba mendorong aku kembali ke kenyataan.

Aku sedang berada di kelas seni, dikelilingi oleh sesama senior, menggambar sketsa model telanjang di depan kami.

Saat melihat sketsa buatanku di atas meja…

Oh tidak. Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak…

Brittany terkikih di belakang saat aku mencoba menutupi apa yang telah aku gambar.

“HELEN MENGGAMBAR PROFESOR HAMMOND! YA TUHAN!”

Gelak tawa meledak di seisi ruangan saat semua orang mendekat untuk melihat gambar yang aku buat.

Memang benar. Aku sedang melamun, berkhayal tentang Profesor Hammond yang keren, dan secara tidak sengaja menggambar kepalanya di tubuh telanjang.

Oh, sial…

Rupanya, aku juga membuat penis raksasa pada sketsa itu.

Helen, kau ini KENAPA?!

Aku semakin malu saat Profesor Hammond, instruktur keren yang membuatku meninggalkan riwayat pencarian pornografi guru di bagian teratas riwayat peramban komputerku, bangkit dari mejanya dan berjalan menghampiri aku dan Brittany.

“Tenang, anak-anak. Masih ada setengah jam kelas tersisa. Kembalilah ke—eh…ke…”

Aku memejamkan mata saat teman sekelas tertawa geli.

Aku tidak ingin melihat ekspresi Pak Hammond ketika dia melihat sketsa buatanku; aku ingin Tuhan menghantam aku dengan sambaran petir.

“Lumayan,” kata Pak Hammond dengan suara rendah. Dia terdiam sejenak—aku menyadari bahwa napasku tersendat.

“Namun, Helen, lain kali… tolong ikuti tugasnya.”

***

Pukul 15.30, aku segera lari keluar kelas dengan kepala menunduk ke tubuh seperti kura-kura.

Musuh masa kecilku mempermalukanku lagi.

Brittany Childress telah membuat hidupku seperti neraka sejak tahun pertama di sekolah menengah, meskipun kami berdua adalah senior di Universitas Boulder State—satu semester lagi menuju fase dewasa sejati—sangat sedikit yang berubah.

Sebenarnya, kami dulu berteman di sekolah menengah, tetapi sejak ayahnya bercerai, dia berubah menjadi jalang paling berengsek di duniaku. Aku tidak tahu alasan dia berubah. Aku juga tidak punya ayah, tapi tidak pernah melampiaskannya kepada orang.

Aku melihat Brittany di dekatku, memainkan helaian rambut pirang sempurna miliknya sambil mengejekku. Sebentar lagi, seisi sekolah akan tahu tentang sketsa terbaruku.

Wanita jalang sialan. Aku harap payudaranya akan meledak.

Tentu saja, setiap mahasiswi jurusan seni ingin meniduri Profesor Hammond—beberapa pria juga—tapi tidak ada yang pernah menggambarnya telanjang. Setidaknya tidak di depan umum.

Udara hangat dan harum menenangkan saraf saat aku melangkah keluar ke lapangan. Itu adalah hari terakhir kelas kami sebelum liburan musim semi, dan kemungkinan besar semua orang akan melupakan kejadian itu saat kami kembali ke sekolah.

Semoga saja.

“Helen!”

Secara naluriah aku bergidik mendengar namaku.

Apakah berita menyebar secepat itu?

Apakah aku sedang menjadi buah bibir atau semacamnya?

Aku tidak akan membiarkan Brittany dan tulisan jahatnya di Twitter; dia benar-benar bajingan abad ke-21.

Aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggil, lalu menghela napas lega saat melihat Emma berjalan dari arah serikat siswa.

Hanya teman terbaikku.

“Ada apa, kawan?” Emma bertanya sambil mengamati, “kau terlihat tegang. Masih kesal karena melewatkan pestaku akhir pekan ini?”

Emma merencanakan pesta besar di kondominium orang tuanya pada malam berikutnya. Mereka berlibur dengan kapal pesiar di Meksiko, jadi masing-masing dari kami punya kesibukan sendiri.

Yah, aku tidak akan kesal.

“Maksudku… tidak,” ucapku sambil cemberut, “tapi ya, aku kesal. Kenapa Ibu harus menjadwalkan akhir pekan ini untuk menikah? Aku ingin bersenang-senang. Aku membutuhkannya setelah melalui hari yang menyebalkan ini.”

“Aku mendengar kabar tentangmu dan Profesor Hammond.”

“Apa?! Bagaimana kau—”

“Brittany menyebarkan posting soal itu di story Instagram-nya,” kata Emma sambil mengangkat bahu, “meskipun begitu gambar penis buatanmu menakjubkan.”

“Ya, aku dan Picasso,” gerutuku.

Hebat. Brittany hanya memiliki sekitar seribu pengikut.

“Hei, lihat sisi baiknya,” kata Emma saat kami melintasi kampus menuju asrama, “kau mungkin akan bertemu dengan banyak orang gunung yang keren akhir pekan ini.”

“Aku sudah bertanya kepada ibuku, dan akan ada nol pria tampan di pernikahan. Kecuali kau menghitung saudara tiriku.”

“Ooh, kedengarannya keren!” Emma tertawa, “sama seperti semua film porno yang kau tonton.”

Aku hanya memutar mata ke arahnya.

Film porno itu hanya fantasi. Ini kehidupan nyata.

“Aku tidak percaya kalau Ibu menikahi seseorang yang baru dia kenal enam bulan lalu. Aku bahkan belum bertemu pria itu! Tidak biasanya Ibu seperti ini.”

Ibu tidak pernah melakukan hal impulsif dalam hidupnya. Dia mencari nafkah dengan menjual seni dan kerajinan di Etsy. Aku sangat mencintainya, tapi dia bukan tipe orang yang spontan.

“Cinta membuat orang melakukan hal-hal gila,” kata Emma, “atau mungkin calon ayahmu memiliki penis sangat besar. Mungkin lebih besar dari penis Profesor Hammond—”

“Menjijikkan!” aku berteriak sambil menutup telinga, “aku tidak ingin memikirkan Ibu dengan pria gunung yang tua dan kotor itu!”

Kami tertawa geli seperti anak sekolah menengah saat aku menggesek kartu kunci dan memimpin jalan ke asrama kami.

Emma selalu membuatku merasa lebih baik.

***

Aku memasukkan barang yang sudah dikemas ke mobil Corolla andalanku yang berkarat. Bear Creek berada di antah berantah, dan Ibu membuatku menghabiskan seluruh liburan musim semi di sana.

Seminggu, menurut Ibu, akan diisi dengan kegiatan mendaki gunung…berkemah…berenang…wisata alam…

Dengan kata lain, semua hal yang aku benci.

Aku adalah seorang gadis kota. Aku suka berpesta. Memposting makan siang di Instagram. Rebahan dengan piama dan menonton Netflix.

Aku tidak berharap untuk menghabiskan liburan sekolah terakhir di pegunungan seperti orang udik.

Aku menutup bagasi, agak terhibur oleh kenyataan bahwa bagasiku diisi dengan semua makanan ringan favoritku—ditambah beberapa botol vodka Smirnoff.

Aku perlu sesuatu untuk dilakukan, seandainya Jack tidak memiliki Internet di kabin kayunya atau apa pun.

Saat berjalan ke sisi pengemudi mobil, aku melihat dua orang berjalan menghampiriku.

Salah satunya adalah Chris.

Astaga.

Jantungku kembali bergemuruh.

Aku diam-diam menyukai Chris sejak masuk universitas. Sekarang, setelah sekolah berakhir, aku merasa bahwa waktu untuk menyatakan perasaanku adalah “sekarang atau tidak sama sekali”. Kami kehabisan waktu untuk bersama. Bukan berarti aku berpikir kalau kami mungkin punya kesempatan.

Aku tidak punya kesempatan. Chris berkulit cokelat, dia bermain di tim squash, dan giginya lebih putih dari salju kutub utara. Orang tuanya kaya karena ayahnya menjalankan perusahaan farmasi atau semacamnya, dan mereka memiliki rumah ski di Vail.

Vail!

Aku bukan gadis paling jelek di kampus, tapi selalu merasa hampir gemuk. Tubuh berisi ini membuatku sadar diri.

Ditambah kenyataan bahwa Ibu baru saja pindah ke tempat antah berantah, dan aku tidak tampak menarik bagi pria paling tampan di kampus.

Aku yakin dia sudah mendengar apa yang terjadi di kelas seni hari ini. Brittany jalang itu menyukai Chris, dan dia juga tahu aku menyukainya. Dia selalu mencari cara untuk menyabotaseku.

“Kau mau ke mana, Helen?”

Chris menghampiriku, sahabatnya, Sean, mengikuti di belakang. Aku tidak tahu kenapa Chris bergaul dengan anak payah itu—sepertinya dia merasa tidak enak karena temannya tidak pernah punya pacar.

Gebetanku baik sekali.

Aku bersandar di mobil, berusaha terlihat biasa saja. Aku mencoba menyembunyikan tangan yang gemetaran di saku celana jins, tapi kemudian ingat celana jegging-ku tidak ada sakunya.

“Aku akan pergi ke Rockies untuk pernikahan ibuku.”

“Rockies, ya?” Chris tersenyum. Giginya hampir membutakanku. “Kau tahu, orang tuaku punya tempat di Vail. Apakah tempatnya di dekat sana?”

“Tidak, um…bukan Vail,” kataku terbata-bata.

“Aspen?” tanya Sean.

“Aku… aku akan pergi ke Bear Creek.”

Aku merasa wajahku memanas. Untung saja hari sudah mulai gelap.

Chris mengangkat satu alisnya. “Bear Creek? Sungguh?”

Aku mengangguk. Dia mengerutkan kening, bertukar pandang dengan Sean. Aku yakin mereka akan mentertawakan ini nanti.

“Jadi, kurasa kau tidak akan datang ke pesta Emma…” katanya.

Apakah aku kehilangan akal sehat, atau dia memang terdengar…

Kecewa?

“Tidak, tidak kali ini,” kataku.

Chris mengangguk dan menghiburku. “Baiklah, selamat beristirahat. Sampai jumpa setelah kami kembali.”

Dia memelukku dan itu membuatku hampir meleleh.

“Ya… Sampai jumpa,” balasku, “bersenang-senanglah besok.”

“Kami akan bercinta dengan banyak wanita!” Sean mencibir, senyum jelek muncul di bawah hidung mirip babinya. Dia berbau seperti air bong yang sudah didiamkan selama seminggu.

“Hati-hati dengan beruang di sana,” Chris memperingatkan dengan bercanda.

Aku tertawa. “Tentu saja.”

Dia menunjukkan senyum jutaan dolarnya sekali lagi dan berbalik untuk pergi. Aku jatuh ke dalam mobilku, pingsan.

Apakah itu hanya bayanganku, atau di antara Chris dan aku…ada semacam…perasaan?

Pasti hanya bayanganku saja

Benar, kan?

Sialan!

KENAPA aku malah pergi ke Bear Creek, bukannya pesta Emma?

Aku memutar kunci kontak, mendengarkan suara mesin Corolla hidup.

Pengorbananku untuk Ibu…

***

Beberapa jam kemudian, aku mengemudi di jalan pegunungan yang gelap, benar-benar tersesat. Rupanya, Bear Creek bukan hanya antah berantah—tempat itu adalah ujung Bumi.

Aku tidak melihat mobil lain dalam jarak bermil-mil, apalagi pom bensin atau McDonald's. Jadi, tidak ada McFlurry yang nikmat untukku.

Di sini tidak ada lampu jalan, tiang telepon, atau pun pagar pengaman. Tidak ada apa-apa di kedua sisi jalan selain pepohonan. Pepohonan dan lebih banyak lagi pohon sialan.

Kemudian, aku melihat secercah cahaya kuning dalam kegelapan. Sebuah tanda jalan!

Aku seharusnya bertemu dengan Ibu di belokan tertentu, tetapi tidak ada sinyal di sini dan GPS juga berhenti bekerja.

Apakah aku semakin dekat dengan Bear Creek Lane?

Mana aku tahu?

Aku melambat saat mendekati tanda itu, menyipitkan mata dalam gelap untuk melihat tulisannya…

HATI-HATI TERHADAP BERUANG

Beruang?! Ya Tuhan.

Aku pikir Chris bercanda.

Saat aku terus berjalan, jalan menjadi semakin sempit dan lebih berangin.

Pegunungan Rocky yang menjulang menghalangi cahaya bintang dan bulan. Di luar gelap gulita.

Di mana aku?

Dengan perasaan yang semakin cemas, aku mengurangi volume suara musik Camila Cabello yang sedang aku dengarkan. Musik menjadi pengalih perhatian karena mengemudi semakin sulit.

Saat berbelok di belokan lain, aku melihat gerakan di sorotan lampu depan. Aku panik dan menginjak rem.

Sialan…

Tanganku menggenggam kemudi lebih kencang saat melihat bayangan besar muncul dari hutan…

Lalu, seekor BERUANG melompat ke tengah jalan!

Binatang berbulu itu berhenti di depanku, menghadap Corolla dengan matanya yang berkilauan.

Astaga.

Beruang itu menatap tepat ke arahku!

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

HELEN

Beruang Grizzly terhuyung-huyung mendekati Corolla. Binatang besar berbulu itu hampir seukuran mobilku.

Mataku tertuju pada cakar putih bertulang tebal yang menyeret aspal retak.

Rahang kuningnya penuh dengan air liur.

Mata hitam itu mengawasiku di balik moncongnya yang mengendus.

Beruang itu mencium bau tubuhku, sepertinya.

Aku tidak bisa bernapas.

Apakah aku akan menjadi makan malam Beruang Grizzly?

Itu salah satu makanan yang tidak ingin aku posting di Instagram.

Beruang itu berhenti di depan bumper, air liurnya menetes di kap mobil…

Aku ingin memejamkan mata, tapi tidak bisa berpaling…

Lalu….

Secara mengejutkan…

Beruang itu berbalik dari mobilku… lalu berjalan ke dalam hutan.

Aku menunggu sepuluh detik, tiga puluh detik, yang terasa seperti satu menit penuh sebelum akhirnya aku menarik napas.

Ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhirku ke Bear Creek, aku berjanji kepada diri sendiri. Pernikahan atau bukan, Ibu berutang banyak kepadaku.

Aku menginjak gas, melaju lebih jauh dari jalan itu, mataku melirik setiap tikungan mencari tanda-tanda binatang berbulu itu.

Kemudian, lampu depan mobil menyorot rambu jalan lain.

Apakah itu peringatan lain yang memperingatkanku untuk mewaspadai adanya beruang? Menurutku, peringatan itu harus ditambah lebih banyak di sepanjang jalan raya ini.

Namun, ketika semakin dekat, aku mengenali tanda jalan itu yang mirip dengan tanda jalan umum. Aku menghela napas lega.

Aku telah menemukan Jalur Bear Creek.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Yesus. Terima kasih, Allah, Buddha, Beyonce…

Aku memperlambat laju mobil. Sebuah pikap tua diparkir di bawah tanda itu. Lampu depannya menyala saat aku mendekat. Seorang wanita kurus paruh baya bersandar di jendela mobil sambil melambaikan tangan dengan panik…

Ibu!

Aku parkir di sebelah truk. Ibu sudah menunggu untuk memeluk saat aku keluar dari mobil.

“Oh, sayang! Kau berhasil sampai sini!” dia memekik.

“Hampir saja,” kataku sambil meremas punggungnya, “ada apa dengan truk itu?”

Ibu biasa mengendarai Kia. Apa yang dia lakukan dengan mobil tua reyot ini?

Dia melirik ke belakang. “Jack ingin aku menggunakan truk kerjanya. Aku tidak punya kendaraan roda empat, dan kau belum tahu apa yang akan kau hadapi di sini, terutama di malam hari…”

“Maksud Ibu,seperti Grizzly raksasa yang hampir memakan Corolla-ku?”

“Oh, mereka tidak berbahaya,” kata ibuku, dengan tatapan nakal, “mereka lebih takut kepadamu daripada rasa takutmu terhadap mereka.”

“Aku akan mengantarmu ke kabin,” katanya sambil naik ke mobil pikap Jack. Aku mengangguk dan kembali ke dalam Corolla.

Benar. Kabin.

Aku merasa seperti karakter utama dalam film horor remaja.

Liburan musim semi di sebuah kabin dalam hutan. Tak akan ada hal buruk yang mungkin terjadi, kan?

Aku menguatkan diri saat lampu belakang Ibu mulai menyusuri Jalur Bear Creek.

Minggu terberat dalam hidupku telah resmi dimulai.

Aku membuntuti di belakang pikap saat kami berkelok-kelok di sepanjang Jalur Bear Creek, yang ternyata jalan tanah penuh dengan bebatuan dan lubang.

Jika Ibu tidak ada di sana, mungkin aku tidak akan pernah melihatnya. Pintu masuk ke belokan benar-benar tersembunyi oleh semak-semak buah blackberry.

Awalnya, hutan di sekitarnya sama lebat dan gelapnya seperti di jalan raya.

Ya. Tempat ini memiliki nuansa Jumat Kliwon.

Kemudian, aku melihat cahaya di antara pepohonan. Jendela kompleks perumahan yang bersinar—perumahan yang besar—yang tidak akan terlihat aneh di kota resor seperti, yah…

Vail.

Itu adalah kejutan menarik. Kukira hanya orang udik yang tinggal di sini.

Atau mungkin Jack satu-satunya, pikirku, melihat ke depan ke pikap jelek itu.

Aku mengikuti Ibu menyusuri jalan yang panjang.

Waaaaaaaaah….

Ternyata itu jalan masuk ke rumah, bukan jalan samping. Selain itu, rumah raksasa di sana—lebih besar dari rumah lain yang pernah kami lihat. Rumah itu tampak seperti semacam pondok ski mewah untuk acara retret perusahaan—semuanya terbuat dari kayu dan kaca.

Apakah Jack bekerja sebagai penjaga taman atau semacamnya?

Ibu masuk ke garasi untuk lima mobil, memarkir mobil di antara Kia tua miliknya dan sebuah SUV raksasa, memberi isyarat kepadaku untuk memarkirkan mobil ke salah satu tempat kosong lainnya. Setelah parkir, aku keluar dari Corolla, terpesona oleh ukuran ruangan yang tiga kali lebih besar dari kamar asrama yang aku tempati bersama Emma.

Ibu menyeringai. “Ini dia! Rumahku istanaku!”

“Apakah Jack tukang kebun di sini atau semacamnya?” Mataku tertuju kepada sepasang jet ski yang bertumpu pada sebuah trailer di ujung ruangan. Ibu tertawa.

“Tidak, sayang! Ini tempat tinggalnya. Dia membangun rumah ini dengan tangan kosong.”

Apa?

Aku terkejut.

Dia membangun rumah ini sendiri? Sial, bahkan itu pasti menghabiskan banyak uang. Apakah Jack semacam miliarder dusun?

“Kupikir kau bilang dia membuat furnitur—”

“Aku memang membuat furnitur!” terdengar suara yang menggelegar.

Seorang laki-laki besar bertubuh besar dengan kemeja flanel tebal tiba-tiba menarik ibuku ke dalam pelukan tangan berototnya. Dia tertawa dengan kencang.

“Helen, perkenalkan Jack!” kata Ibu saat pria itu—yang pasti Jack—melepaskan pelukannya. Dia mengulurkan tangan untuk berjabat.

“Ayo kita berjabat tangan, Helen. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.”

Aku menatap mata berwarna keperakan dan wajahnya yang ramah, semua berkerut di pelipisnya.

Ya Tuhan.

Jack benar-benar pria idaman.

Dia memiliki senyuman awet muda dan janggut gelap berbintik abu-abu. Rambutnya yang panjang ditarik ke belakang menjadi sanggul pria yang berantakan, dan otot-ototnya terlihat seakan dapat merobek kemeja yang dikenakannya kapan saja.

Hebat, Bu.

Ibu memang tampak menarik. Di usia awal lima puluhan, Ibu masih memiliki tubuh yang ramping—lekuk tubuhku jelas keturunan dari Ayah.

Aku tidak akan pernah ingin membayangkan Ibu di atas ranjang, tetapi siapa saja yang punya mata dapat melihat bahwa Ibu adalah seorang dewi seks.

Mereka berdua beruntung.

“Senang juga bertemu denganmu,” kataku kepada Jack dengan tulus.

Aku melirik Ibu—atau berusaha meliriknya—melewati bahu bidang Jack, memberinya tatapan setuju yang halus. Wajah Ibu berubah menjadi merah muda cerah.

“Bolehkah kami mengajakmu berkeliling rumah?” Jack bertanya, mengulurkan lengannya padaku. Aku pun menerimanya.

“Tentu saja,” kataku sambil menatap Ibu sekali lagi.

Kaya, seksi, dan sopan?

Mama mia!

***

Jack dan Ibu menuntunku berkeliling rumah yang tampak lebih besar dari dalam daripada dari luar. Jack memiliki dapur, ruang tamu, dan beberapa kamar tidur yang sangat besar…

Semuanya seperti dibangun untuk raksasa.

Pasangan bahagia itu bercanda dan tersenyum sepanjang waktu. Aku tidak percaya sudah meragukan lelaki pilihan Ibu. Mereka sempurna bersama—dalam hal cinta dan bisnis.

Bagaimanapun juga, mereka bertemu di pameran kerajinan. Jack datang dengan perabotannya, dan Ibu dengan selimut, selendang, dan bantal yang dia jual di situs Etsy-nya.

Sekarang, mereka bekerja sama—Jack masih membuat perabotan, tapi sekarang Ibu melapisi perabotan buatannya. Rupanya, kolaborasi mereka laris manis.

Setelah berkeliling rumah, Jack bersiap-siap untuk pergi. Dia mau bertemu dengan putranya, Sam, dan beberapa teman di bar setempat untuk malam pesta para lelaki.

Dia menyuruh kami untuk tidak menunggu, jadi sepertinya aku akan bertemu Sam keesokan paginya. Jika mirip dengan ayahnya, aku yakin dia juga akan tampak keren.

Jack dan Ibu berbagi ciuman manis sebelum dia pergi.

“Selamat malam, nona-nona!” katanya sambil melambaikan tangan kepadaku.

“Jangan minum terlalu banyak!” Ibu memperingatkannya.

Dia mengernyitkan dahi. “Siapa? Aku?”

Ibu memutar mata. Jack mengedipkan mata kepadaku, bersiul polos saat keluar rumah melalui pintu.

Ibu menoleh ke arahku, menggelengkan kepala. “Kau pasti lelah, sayang. Kami sudah menyediakan kamar tamu untukmu di lantai atas jika kau ingin tidur.”

“Tidur? Apakah Ibu sedang bercanda?” ucapku sambil memberinya seringai nakal, “Bu, kau akan menikah besok. Kita akan minum-minum!”

***

Dua puluh menit kemudian, aku sudah di dapur, mencampur Smirnoff-ku dengan minuman soda milik Ibu dan Jack di lemari es. Ibu mengerutkan kening saat aku melayaninya.

“Sayang, kau tahu aku tidak minum banyak.”

“Tepat sekali. Aku menyediakannya karena ini adalah acara khusus.”

Aku mengangkat gelas dari meja dapur.

“Untuk Ellie dan Jack,” kataku.

Clink!

Kami pun menyesap minuman. Ibu mengeluarkan ekspresi kurang sedap di wajahnya.

Tentu saja, minuman bersoda dan vodka bukanlah koktail yang paling berkelas, tapi itu adalah favoritku—aku tidak mencoba untuk mengesankan siapa pun di hutan ini.

“Apakah Ibu benar-benar mencintainya?” tanyaku, minuman keras membuatku tenang setelah hari yang panjang.

Dia mengangguk. “Ibu benar-benar mencintainya. Ibu merasa sangat aman saat terbungkus dalam pelukan beruangnya.” Dia tersenyum sendiri.

“Dia adalah hal terbaik yang terjadi kepadaku sejak, yah…kau lahir.”

Aww. Terima kasih, Bu.”

Kata-katanya menghangatkan hatiku. Ibu dan aku hidup sendiri sejak Ayah mengalami kecelakaan. Dengan uang yang didapatkan dari asuransi jiwa Ayah, kami memiliki cukup banyak uang untuk hidup, tetapi Ibu berubah menjadi sedikit tertutup.

Bahkan ketika dia memulai bisnisnya, dia jarang meninggalkan rumah kecuali saat perlu membeli perlengkapan menjahit atau menghadiri pameran kerajinan.

Ibu selalu menjadi penyendiri, dan terkadang aku khawatir Ibu akan berakhir sendirian di usia tuanya.

Bertemu dengan Jack telah menghilangkan kekhawatiran itu.

“Jadi, Ibu suka tinggal di sini?” tanyaku sambil berjalan ke ruang tamu. Perlengkapan berkemah antik menghiasi dinding—dayung, sepatu salju, dan pancing. Sebuah lampu gantung yang terbuat dari tanduk rusa tergantung di langit-langit yang tinggi.

“Di sini sangat berbeda dengan kota Boulder,” jawab Ibu sambil duduk di sofa kotak-kotak besar dekat perapian batu.

Aku ikut duduk di sebelahnya sambil memandangi halaman luas melalui dinding kaca yang menjadi bagian dari ruangan itu.

“Aku tahu tempat ini tampak terpencil,” lanjutnya, “tapi Ibu menikmati berada di sini, di alam bebas. Hidup jauh lebih sederhana tanpa Wi-Fi atau layanan seluler.”

“Tidak ada Wi-Fi?!” Aku berteriak karena tidak percaya. Ibu hanya tersenyum.

“Maaf, sayang.”

Aku menghela napas. “Lalu, apa yang kalian lakukan untuk bersenang-senang?”

Ibu mengangkat bahu. “Ketika aku pindah ke sini pada musim dingin ini, kami mengenakan sepatu salju dan mendaki. Terkadang, kami hanya duduk di dalam dan membaca buku di dekat perapian…”

Sebuah pandangan berbinar-binar kuarahkan kepada Ibu saat dia menatap ke perapian.

Aku bisa membayangkan apa saja yang lebih sering mereka lakukan daripada sekadar membaca buku selama malam musim dingin yang panjang dan dingin.

Ihhhhhh! Singkirkan pikiran mesummu, Helen!

“Apakah kalian pergi keluar atau melakukan hal lain?” tanyaku sambil mengubah topik pembicaraan. Ekspresi melamun pun menghilang dari wajah Ibu.

“Oh, eh…,” ucap Ibu saat tersandung, “tidak, kami tidak sering keluar rumah. Jack pergi ke kota ketika kami membutuhkan sesuatu, dan ibu selalu sibuk dengan pekerjaan, memasak, atau pekerjaan rumah…”

“Apakah dia menyuruhmu melakukannya?” tanyaku. Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak ingin ibuku menjadi pembantu.

Dia memang seorang ibu rumah tangga, tapi dia bukan ibu rumah tangga biasa.

“Tidak seperti itu. Kami berbagi tugas. Hanya saja…” ucapnya dengan suara melemah saat mencari kata-kata yang tepat, “Ibu sangat menyukai rumah ini.”

Yah, tentu saja itu masuk akal. Tempat ini adalah istana.

“Kau pasti akan menyukai Sam,” kata Ibu setelah menyesap minumannya lagi, “dia tinggal di sini bersama kami. Dia membantu Jack membuat perabotan.”

“Keren,” kataku, “dia kuliah di mana?”

“Sebenarnya, dia ikut bekerja dengan Jack setelah lulus SMA.”

“Oh. Itu… juga keren.”

Dia tidak kuliah? dan tidak memiliki Wi-Fi atau layanan seluler?

Hmmmm…

Mungkin Sam tidak akan begitu keren. Jika kami tidak memiliki cerita tentang kuliah atau tontonan Netflix yang sama, apa yang harus kami bicarakan? Pohon dan batu?

Bosaaannn.

“Aku sangat ingin bertemu dengannya besok,” kataku, berusaha bersikap sopan. Untungnya Ibu sudah mabuk dan mengira aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.

“Dia akan menjadi kakak laki-laki yang selalu kau inginkan,” ucapnya dengan rancau.

“Ya.”

Terserah, Bu.

***

Ibu dan aku membersihkan semua botol Smirnoff malam itu. Aku belum menemui Ibu sejak Natal, lalu hidupnya telah banyak berubah sejak saat itu, terutama setelah lamaran pernikahan, pindah rumah, dan sebagainya.

Di penghujung malam, aku merasa lebih dekat dengan Ibu setelah beberapa waktu yang lama.

Namun, menjelang pagi, aku merasa lebih dekat dengan kematian.

Aku sangat mabuk.

Sambil terhuyung-huyung, aku keluar dari kamar tidur tamu, mataku berkedip saat melihat cahaya pagi, aku hanya mengenakan kaus Boulder State yang besar dan usang dan celana dalam kemarin, tapi aku tidak peduli—aku butuh minum air, segera.

Aku terhuyung-huyung turun ke dapur dan mengisi gelas di wastafel. Airnya begitu murni dan menyegarkan—mungkin berasal dari gletser Gunung Rocky atau semacamnya. Aku merasa hidup kembali.

Aku mengisi gelas lagi dan bersandar di wastafel, melihat catatan tempel di meja dapur.

Kami sedang pergi mencari madu. Segera kembali. Salam sayang, Ellie + Jack

Madu? Hah?

Aku terlalu tercengang untuk memikirkannya. Aku berjalan ke lemari es untuk melihat apa yang bisa kumakan untuk sarapan. Mabuk berat selalu membuatku lapar.

Kalau dipikir-pikir lagi, memang ada yang tidak membuatku lapar?

Aku menyenandungkan lagu Camila Cabello, menggoyangkan pantat mengikuti nada lagu saat mengambil telur dan bakon dari lemari es.

Sesuai dengan apa yang kuinginkan.

“Pagi, señorita,” sebuah suara berat mencibir.

Aku terdiam.

Itu tidak terdengar seperti Jack.

Jadi, itu pasti…

Aku pun menutup pintu lemari es.

Orang yang bersandar di pintu dapur adalah Jack—atau, bagaimana Jack akan terlihat jika dia tiga puluh tahun lebih muda, setengah telanjang, dan memberi seringai paling sombong yang pernah kulihat.

Aku tidak bisa berhenti menatap otot perut… dan dada itu…

Oh tidak.

Ini jauh lebih buruk dari yang aku duga.

Kakak tiriku yang baru…

…Adalah dewa seks!

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Galatea Logo

Unlimited books, immersive experiences. Download now and start reading for free.

Social Links