logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Ariel adalah manusia serigala berusia 20 tahun yang bermimpi menjadi prajurit kawanan. Setidaknya, begitulah impiannya sampai dia diculik oleh Para Pemburu dua tahun lalu, dan dipakai menjadi subjek untuk eksperimen mengerikan. Dengan bantuan Dewi Bulan, akhirnya Ariel memperoleh kembali kebebasannya. Namun, menemukan jodohnya dan menata kembali hidupnya mungkin akan menjadi lebih sulit dari dugaan.

Rating Usia: 18+

 

Ratu yang Hancur – Danni D

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

ARIEL

“Ayo, Ariel, tunjukkan kemampuanmu.”

Lengan berotot Xavier melingkari tubuhku, dan dia mendorong punggungku ke dinding.

Aroma tanah dari tubuhnya membuatku merasa pusing, dan sulit bernapas saat dadanya yang lebar menempel di dadaku.

Aku kehilangan fokusku, tapi aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Aku tidak boleh menyerah.

Aku harus membuktikan kemampuanku.

Dengan cepat, aku meraih pergelangan tangan Xavier, menariknya ke atas bahuku, dan memutar tubuhku—membalikkan pria itu hingga telentang.

Aku menyeringai. “Apakah itu yang ingin kau lihat?”

Kerumunan menjadi antusias—ya, kerumunan. Karena aku berada di tengah ujian terberat dalam hidupku, dan semua orang menunggu untuk melihat apakah aku akan bersinar di kesempatan ini, atau akan jatuh tersungkur.

Semua rekan satu timku menyemangati dari pinggir arena, berharap aku lulus ujian terakhir ini untuk menjadi prajurit kawanan seutuhnya.

Tiba-tiba, aku merasa kakiku dijegal dari bawah, dan aku mendarat di punggung, dengan keras.

Dalam sekejap, Xavier menimpaku—seperti benar-benar berada di atasku.

Aku hanya mengenakan bra olahraga, dan tubuh kami yang basah oleh keringat saling menempel saat dia menjepitku.

Dia membungkuk dan berbisik di telingaku. “Menyerah saja, Ariel. Jangan memaksa.”

Jantungku berdebar kencang, siap meledak dari dadaku.

Napas Xavier terasa panas di leherku. “Mungkin nanti kita bisa melakukan ini tanpa pakaian.”

Tangannya meluncur ke bawah perutku ke pahaku, mencengkeramnya erat-erat, dengan penuh hasrat.

Tubuhku menggeliat di bawahnya, mendambakan sentuhannya, menyerah kepada sensasi panas ini.

Menyerah adalah tawaran yang menarik, terutama mengingat betapa seksinya Xavier, tetapi saat ini ada hal yang lebih penting di pikiranku…

Aku menikmati ekspresi keterkejutan Xavier saat kuayunkan kakiku ke atas dan kulingkarkan di lehernya, membuatnya tercekik di dalam kuncianku.

Yang lebih penting lagi—menghajarnya.

“Sepertinya sekarang aku yang unggul,” bisikku.

Aku menekan pahaku sekencang mungkin, memastikan Xavier tidak bisa melepaskan diri.

Beberapa saat kemudian Xavier mengetuk tanah, menandakan dia menyerah.

Kerumunan pun bersorak-sorai, dan rekan-rekan setimku mengerumuni arena, melompat, berteriak, menyemprotkan minuman olahraga ke segala arah.

Aku menjatuhkan diri ke lantai, linglung. Apakah benar aku baru saja mengalahkan Xavier? Apakah aku sungguh menang?

Xavier bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya. Aku meraihnya dan dia menarikku ke atas, langsung menuju dadanya.

“Bagus, Ariel. Hari ini, kau berhasil membuktikan diri sebagai prajurit sejati.”

Dia membungkuk, dan untuk sesaat kupikir dia akan menciumku, tapi kemudian—

Xavier menggeram pelan di telingaku. “Dan malam ini, kau akan membuktikan apakah dirimu layak menjadi alpha dengan cara lain.”

Tenggorokanku seakan tercekat jantungku sendiri, dan aku sungguh tidak bisa berkata-kata.

Oh, Dewi—Xavier menginginkan AKU?

***

Aku duduk di pinggir danau yang tenang, dinaungi kanopi pepohonan di atasku, dan kulepas sepatu botku, serta melemparkannya ke samping.

Kucelupkan kakiku ke dalam air dan menghela napas lega.

Kakiku menyiksaku. Pelatihan memang selalu menyiksa, tetapi itu benar-benar membuatku tangguh, dan hari ini, semua akhirnya terbayar.

Aku bukan lagi seorang calon anggota…

Hari ini, secara resmi aku sudah menjadi anggota prajurit kawanan.

Aku menatap bangga tato bulan sabit di bagian dalam lenganku—tanda seorang prajurit.

Kawananku, Kawanan Bulan Sabit, memiliki salah satu program pelatihan prajurit terbaik dan timku sudah bagaikan keluarga keduaku.

Kami menyebut diri kami “X-Squad” untuk menghormati pemimpin tim kami yang tak kenal takut, Xavier.

Sebenarnya, dia yang membuat nama itu, tapi menurutku itu cukup menarik.

Suara gerutuan dan geraman parau tiba-tiba menarik perhatianku ke dermaga terdekat.

Yang dibicarakan muncul…

Xavier sedang berlatih tarung dengan rekan satu tim kami, James.

Dia mengirimkan pukulan secepat kilat ke arah James, membuatnya oleng, lalu melompat ke udara dan mendaratkan tendangan tepat ke perutnya, menghempasnya jatuh terduduk.

Xavier perlahan melepas bajunya untuk memperlihatkan tubuhnya yang kencang dan lekukan otot-ototnya saat dia menyeka keringat dari tubuhnya yang berkilau.

Astaga, dia sangat bugar…

Xavier tersenyum sombong kepada James. “Kau memang sudah mendapatkan tanda bulanmu, tapi kau masih bukan tandinganku, Jamesy.”

Xavier mulai pamer, dan saat aku condong ke depan untuk melihat lebih jelas, aku hampir jatuh tertelungkup di danau.

Aku berhasil menjaga keseimbanganku tepat waktu, mendapati diriku menatap bayanganku di air.

Rambutku yang berwarna kastanya benar-benar berantakan, tapi mata kuning gelapku menonjol dari kotoran di seluruh wajahku.

Ketika aku masih kecil, Ayah selalu bilang bahwa mataku terlihat seperti bunga matahari, jadi dia mulai memanggilku bunga matahari kecilnya sampai aku memprotes julukan feminin tersebut.

Aku bukan bunga, aku seorang prajurit! Aku biasa berteriak marah.

Jadi, dia mulai memanggilku prajurit kecilnya, dan panggilan itu bertahan hingga sekarang.

Dari semua orang, aku tidak sabar memberitahukannya terlebih dahulu tentang diterimanya aku ke dalam program prajurit.

Aku tahu dia akan sangat bangga kepadaku.

ibuku, di sisi lain…

Dia berpikir bahwa tidak baik bagi anak perempuan menjadi prajurit. Dia selalu bilang aku harus lebih seperti adikku, Natalia.

Natalia tidak akan pernah terlihat dengan rambut kusut dan wajah kotor—penampilannya selalu begitu rapi dan sopan.

Ketika mendongak, aku melihat Xavier sedang menatapku dari dermaga. Aku langsung sadar diri, mencoba meluruskan simpul di rambutku.

Perkataan Xavier tadi masih segar di benakku, tetapi aku tidak yakin apa yang akan aku lakukan.

Kami belum menjadi jodoh, dan sebagian dari diriku ingin menunggu…

Namun, Dewi, dia benar-benar seksi. Dia menyeringai kepadaku, dan aku segera berbalik, malu.

Uh, kenapa aku terlihat sangat berantakan sekarang?

Aku selalu mengira Xavier menyukai tipe yang manis seperti adik perempuanku. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku adalah tipenya.

Aku sungguh menyesal tidak mandi setelah sesi latihan, tetapi aku sangat bersemangat untuk mendapatkan tanda prajuritku.

“Untuk apa repot-repot,” suara arogan tapi meyakinkan terdengar dari belakangku.

“Kau selalu terlihat seperti baru saja melawan sekawanan serigala—menyisir rambutmu dengan jari tidak akan mengubah itu.”

Oh, Amy, jangan pernah berubah.

Sahabatku, Amy, duduk di sebelahku dan menyenggol bahuku.

Aku terkejut kami bisa berteman baik, mengingat dia lebih mirip Natalia daripada aku, tetapi kami tidak terpisahkan sejak kecil.

“Aku sudah dengar beritanya! Kita harus keluar merayakannya!” katanya, sambil menendangkan kakinya ke dalam air, di sebelah kakiku.

“Jujur, aku lelah,” kataku. “Kita mungkin harus menunda perayaan itu satu malam lagi.”

Ditambah lagi, aku mungkin punya rencana dengan Xavier malam ini…

“Wajahmu memang terlihat lebih merah dari gerhana bulan total,” katanya ketika dia tiba-tiba melihat Xavier berparade di sekitar dermaga, bertelanjang dada. “Apakah itu karena latihan atau karena dia.”

“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan,” kataku, wajahku menjadi hangat.

Tolong katakan kepadaku kau tidak menaksir orang bodoh berotot itu,” kata Amy, sambil menggelengkan kepalanya. “Kau tahu dia mendapat posisi ketua tim hanya karena dia calon alpha selanjutnya.”

“Dia juga petarung yang sangat hebat,” balasku, membelanya.

“Astaga, kau ingin dia menjadi jodohmu!” kata Amy, meledek. “Kau ingin melahirkan anak-anaknya, bukan?”

“Tidak!” Aku berteriak, memercikkan air kepadanya. “Aku sama sekali tidak berpikir begitu tentangnya! Satu-satunya hubungan yang kami jalin adalah teman satu tim.”

Tentu, teruslah katakan itu kepada dirimu sendiri.

“Kurasa kau akan tahu pasti saat usiamu 18 tahun beberapa bulan lagi,” jawabnya, dengan mengangkat alis.

Manusia serigala hanya bisa mengenali jodohnya ketika mereka berdua berusia 18 tahun, jadi kemungkinan besar dia benar; jodohku bisa saja berada di dekatku selama ini.

Namun, beberapa serigala tidak pernah menemukan jodohnya…dan akhirnya kawin dengan serigala lain di posisi yang sama.

Membayangkan tidak menunggu jodoh sejati, itu membuatku sedih.

“Bayangkan saja—jodoh yang ditakdirkan untukmu, kemungkinan bisa siapa saja dalam kawanan ini,” kata Amy sambil menghela napas.

“Atau kawanan lain,” jawabku, mengoreksinya. “Jodoh tidak selalu berada di dekat kita. Meskipun jika Dewi berkehendak, kita tidak perlu mencari terlalu jauh.”

“Jika jodohku di suatu kawanan terpencil, di belahan dunia lain, kurasa mungkin aku akan pindah menganut agama baru,” kata Amy sambil menyeringai.

Kami berdua tertawa terbahak-bahak dan kembali berbaring di rumput. Saat langit menjadi gelap, bentuk bulan sabit menjadi jelas.

“Kurasa aku hanya perlu menunggu dan melihat takdir apa yang tertulis untukku,” kataku sambil tersenyum.

DUA TAHUN KEMUDIAN

Aku merasakan rantainya semakin erat, dan aku melawan keinginan untuk berteriak kesakitan. Belenggu perak menusuk pergelangan tanganku.

Kau mungkin mengira bahwa aku akan terbiasa dengan rasa sakitnya setelah dua tahun diperlakukan seperti binatang yang tidak berharga, menjadi percobaan sains, tetapi terkadang ini sungguh tak tertahankan.

Tahun pertama adalah yang terburuk…

Eksperimennya—menyuntikkan dosis mikro wolfsbane cair ke dalam pembuluh darahku dan menganalisis efeknya pada tubuhku. Juga sisi serigalaku.

Di awal, aku menyadari bahwa rasa terbakar yang mengalir melalui pembuluh darahku adalah wolfsbane yang melemahkan dan memutuskan hubunganku dengan sisi serigalaku.

Sudah setahun penuh aku terpisah dengan wujud serigalaku. Hanya bisa merasakan keberadaannya dengan samar jauh di dalam pikiranku, sedang merintih kesakitan dan sedih.

Tidak pernah dalam hidupku, aku merasa begitu sendirian seperti saat ini.

Mereka merenggut keluargaku…

Teman-temanku…

Juga serigala di dalam diriku.

Mataku mulai terpejam merasakan sakit yang teramat besar.

Aku merasakan tamparan keras di pipiku yang sudah memar.

“Jangan pingsan dulu. Hari ini baru saja dimulai.” Curt, pemimpin para pemburu, menancapkan kukunya yang kotor ke bahuku.

“Pergilah ke neraka,” kataku, mengumpulkan sedikit perjuangan yang tersisa.

Mata abu-abu Curt yang dingin—walau terdengar aneh—adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan. Terpikir olehku untuk mencabut kedua mata itu dari kepalanya…

Aku sering teringat pertama kali aku melihat mata itu—di malam yang sama aku diterima di pelatihan prajurit.

Aku tertidur di tepi danau, dan ketika bangun, mata itu berada di atasku, melotot kepadaku dengan penuh kebencian.

Kawanan kami tidak pernah melakukan kekerasan terhadap umat manusia, tetapi itu tidak penting bagi para pemburu.

Mereka hanya ingin memberantas manusia serigala seluruhnya.

Namun, apa yang mereka inginkan dariku—mengapa mereka membiarkanku hidup untuk dijadikan eksperimen selama dua tahun—aku tidak tahu.

“Kurasa kau harus diajarkan untuk tahu diri, anjing kampung,” kata Curt sambil mengambil jarum suntik berisi cairan perak.

“Tidak… TIDAK!” Aku berteriak saat dia menusuk kulitku.

Tulang belakangku mulai meregang, dan suara retak yang mengerikan bergema di seluruh ruangan saat tulangku patah.

Dia memaksa sisi serigalaku keluar, tetapi perak itu mencegah penyembuhan pada tubuhku selama transformasi.

Rasa sakitnya tidak dapat dibayangkan.

Aku merasa tulang rusukku menusuk paru-paruku dan darah keluar dari mulutku.

Bahkan, darah keluar dari beberapa bagian tubuhku saat tulang-tulangku menembus kulitku seperti mencabik-cabik.

“Sial, sial, sial!” Curt berteriak. “Sepertinya dosis yang kuberikan terlalu banyak! Medis! Cepat kemari!”

Aku sangat ingin melolong karena rasa sakitnya, tetapi yang bisa kukeluarkan hanyalah desahan parau yang menyedihkan.

Ruangan mulai terlihat kabur dan menggelap.

“Stabilkan dia!” Curt berteriak. ”Jangan sampai kehilangan subjek tes terbaik kita. Dia hampir sempurna!”

Saat kegelapan mereda, aku mendengar suara lembut dan halus…

“Jangan menyerah, anakku.”

***

Aku duduk di tepi danau lagi, seperti dua tahun yang lalu, tapi kali ini bukan Amy yang duduk di sebelahku, melainkan seorang wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia cantik dalam segala hal—mata biru pucat, rambut perak panjang terurai di punggungnya, dan kulit halus seperti susu yang hampir tampak bersinar.

Siapa wanita menawan ini?

“Halo, Ariel. Andai saja kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik,” kata wanita itu dengan hangat.

“Siapa…siapa kau? Dan bagaimana kau mengenalku?” Aku bertanya, bingung.

“Namaku Selene, meskipun ada beberapa dari mereka yang memanggilku Dewi Bulan,” jawabnya sambil tertawa lembut.

Oh Dewi, SANG Dewi Bulan. Astaga…

“Jangan gugup, anakku. Aku harus meminta maaf kepadamu.”

Dewi Bulan meminta maaf kepadaku? Kurasa aku tidak merasakan kehadirannya untuk beberapa waktu.

“Kau tidak seharusnya dibawa oleh para pemburu,” katanya dengan tenang, senyum hangatnya tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Namun, kakak perempuanku, Fate, dia sangat pendendam dan dia punya rencana lain dalam benaknya. Kami sangat jarang bertatap muka.”

“Aku tahu perasaan itu,” kataku, memikirkan saudariku sendiri.

“Untuk memperbaiki kesalahan ini, aku menganugerahkan kepadamu hadiah—karunia penyembuhan.”

Selene mencondongkan tubuh ke depan dan mencium keningku. “Semoga kau bisa menyembuhkan rasa sakitmu sendiri…dan rasa sakit orang lain. Jadilah cahaya bagi mereka yang paling membutuhkannya.”

Saat Selene duduk kembali, dia meletakkan telapak tangannya di pipiku dan matanya berbinar.

“Satu hal lagi, Ariel. Ini bukan kehidupan yang kurencanakan untukmu. Kau harus melarikan diri dari tempat ini—dan menemukan jodohmu.”

“Jodohku? Tunggu, siapa jodohku?”

Aku merasakan kehangatan mengalir di tubuhku saat Dewi mulai memudar.

“Temukan dia, Ariel. Hanya kau yang bisa menyembuhkannya.”

***

Aku tersentak bangun, masih terbelenggu di meja operasi, meski ruangan kosong.

Apakah itu hanya mimpi aneh karena demam?

Saat kabut mimpi mulai memudar, satu hal menjadi jelas.

Seharusnya aku sudah mati.

Sebelum pingsan, seluruh tubuhku patah, tulangku menonjol keluar dari tubuhku, dan aku kehilangan begitu banyak darah…

Jadi, bayangkan keterkejutanku saat aku menjulurkan leher untuk melihat tubuhku yang babak belur, dan malah melihat bahwa…

Semua lukaku telah sembuh.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

ARIEL

Aku merasakan kekuatan di dalam diriku yang sudah lama tidak kurasakan. Apakah ini yang dia maksud dengan karunia penyembuhan?

Terima kasih, Selene. Namun, dia tidak hanya mengatakan hal itu…

Dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus melarikan diri…

Dan aku harus menemukan jodohku.

Jodohku?

Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana, tapi sudah pasti dia tidak ada di sini.

Aku berjuang untuk melepaskan rantai, meskipun perak ini tidak lagi menyakiti kulitku seperti sebelumnya, tetapi rasanya masih menyengat.

Aku mendengar pintu di bagian atas tangga terbuka, dan aku pun mendengar langkah kaki oleng seakan orang itu berjalan terhuyung.

Itu mungkin Curt, yang mabuk lagi. Dia suka menyiksaku saat dia mabuk.

Namun, dia tidak tahu bahwa aku telah mendapatkan kembali kekuatanku. Aku bisa memanfaatkan situasi ini.

“Akhirnya kau sadar, anjing kampung. Bagus. Kita akan bermain sedikit,” katanya, bicaranya tak jelas.

Curt meraih kalung perak dan mengalungkannya di leherku, melepaskan rantai di lenganku.

Dia menarik rantai yang melekat pada kalung di leherku, memaksaku berlutut.

”Ada beberapa tamu di atas, dan kau akan menghibur mereka,” katanya dengan senyum menakutkan.

Tamu? Jadi, ada lebih banyak pemburu di lantai atas. Aku harus berhati-hati. Aku mungkin sudah mendapatkan kekuatanku kembali, tetapi aku masih kalah jumlah.

Curt tersandung saat dia mulai menaiki tangga, menarikku ke belakangnya.

Jika mereka juga semabuk Curt, maka aku mungkin sungguh memiliki kesempatan…

“Ayo jalan! Aku ingin memamerkan spesimen terbaikku. Kau adalah bukti bahwa kami benar-benar bisa mengajari trik baru kepada seekor anjing kampung kotor,” katanya, mengencangkan cengkeramannya pada rantai.

Bagus. Peganglah erat-erat, dasar bajingan!

Sambil menggeram, sisi serigalaku muncul, dan aku menarik rantai itu sekuat tenaga.

Curt kehilangan pijakan dan terbang ke belakang, jatuh menuruni tangga seperti boneka kain.

Di bawah, aku mendengar retakan keras saat punggungnya patah akibat benturan.

Aku dengan tenang berjalan ke bawah tangga dan berdiri di atas tubuhnya, saat dia menatapku, memohon belas kasihan.

“To—tolong…”

Aku merogoh sakunya dan menemukan kunci kalungku. Aku membukanya, dan membiarkannya jatuh ke lantai.

Kutatap matanya yang dingin dan kelabu. Mata yang kulihat setiap hari selama dua tahun terakhir saat dia bereksperimen padaku.

Menyiksaku.

Mata yang membuatku bertahan. Andai suatu hari nanti, aku bisa mencabutnya dari kepalanya.

Cakarku memanjang dari ujung jariku.

“Serigala kotor. Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuh kalian semua,” gumamnya, saat darah keluar dari mulutnya.

Aku menancapkan cakarku ke wajahnya dan mencabutnya kembali dalam satu gerakan cepat.

“Kau tidak akan pernah lagi menyakiti orang lain selamanya,” kataku, menyeka darahnya pada gaun tipis yang kukenakan.

Aku merasakan sesuatu di dalam diriku, tapi itu bukan kekuatan Dewi. Tidak, ini sesuatu yang berbeda…

Aku merasa sangat marah. Pikiranku kabur. Aku kehilangan kendali.

Di setiap langkahku menaiki tangga, aku merasakan kemarahan yang semakin tak terkendali.

Apa…apa yang terjadi kepadaku?

Aku tidak hanya membuka pintu di atas tangga…

Aku mencabiknya dari engselnya.

Aku berjalan menyusuri lorong yang kosong dan hampa sampai kutemukan pintu yang tertutup.

Musik pesta menggelegar di sisi lain, dan aku bisa mendengar beberapa pria—setidaknya lima—sedang mabuk menari dan bersenang-senang.

Aku menendang pintu dan menggeram, mengamuk dan brutal, siap membunuh.

Orang-orang itu melihat ke arahku, tercengang, saat mataku mengerlip dari satu pemburu ke pemburu berikutnya.

“Siapa yang pertama?” Aku menggeram, mengeluarkan cakarku.

Salah satu pemburu menarik pistol dari sarungnya, tapi terlalu lambat, dan kujatuhkan pistol itu dari tangannya sebelum aku menjegalnya dan mulai merobek dagingnya dengan cakarku.

Aku diserang oleh dua orang dari mereka di saat bersamaan, saat mereka berusaha melompat menangkap punggungku, tetapi aku berhasil berputar dan menggorok kedua leher mereka.

Mereka memegang tenggorokan mereka saat darah merembes melalui jari-jari mereka, lalu jatuh ke lantai di samping rekan mereka.

Pemburu keempat mengambil pisau dari sepatu botnya dan menyerangku, sambil berteriak. Dia menusuk wajahku dan bilahnya menyayat kulitku, menyebabkan luka kecil.

Saat darah mengalir di wajahku seperti setitik air mata, aku menyentuh luka sayatannya, dan merasakan lukanya sudah menutup.

Matanya melebar tidak percaya. “B-bagaimana k-kau?”

Aku merenggut pisau dari tangannya dan menusukkannya ke dadanya. Dia jatuh ke lantai, matanya masih melotot keluar dari kepalanya.

Aku ingin berhenti dan menarik napas, tapi tubuhku tidak mengizinkan. Aku dipenuhi dengan adrenalin…atau yang lainnya, tetapi aku tidak bisa mengendalikan diriku.

Ketika aku berbalik untuk mencari pintu keluar, aku melihat seorang pemburu muda memegang pistol. Tangannya gemetar saat dia mengarahkannya langsung kepadaku.

Sial. Lima. Aku lupa kalau ada lima orang.

DOR!

Aku merasakan peluru perak menembus pahaku, tetapi tidak meninggalkan sisi lain, dan tetap bersarang di kakiku.

Tanpa ragu sedikit pun, aku menerkam pemburu muda itu dan mematahkan lehernya, tetapi rasa sakit yang membakar menjalari tubuhku saat aku berdiri.

Sial, bagaimana cara kerja penyembuhan ini? Ini adalah rasa sakit terburuk yang pernah kurasakan seumur hidup!

Saat aku melihat pembantaian yang kulakukan, mau tak mau aku bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan Dewi. Dia menyuruhku melarikan diri, bukan membunuh semua orang di gedung ini.

Apakah karena itu penyembuhanku tidak bekerja sekarang?

Aku meraih lentera di dekatnya dan tertatih-tatih menuju tangga yang mengarah ke lubang palka, dan memanjatnya, melalui terowongan yang gelap.

Saat aku mencapai permukaan di atas, aku mengangkat lenteraku dan menyadari bahwa diriku berada di tempat yang tampak seperti lumbung tua.

Jadi, selama ini mereka bersembunyi di fasilitas rahasia bawah tanah. Pantas tidak ada yang berhasil menemukanku…

Aku hendak mendorong pintu lumbung yang besar dan meninggalkan lubang neraka ini selamanya ketika aku melihat beberapa wadah minyak tanah di sudut ruangan.

Aku tidak bisa membiarkan tempat ini digunakan untuk kejahatan lagi…

Kusebarkan minyak tanah ke seluruh lumbung dan kulemparkan lentera itu di atasnya, menciptakan api neraka yang mengamuk seketika.

Saat api menyebar, aku merasa menang, tetapi perasaan itu segera berubah menjadi ketakutan ketika aku melihat api bergerak menuju sesuatu yang tertutup terpal di sudut—sebuah truk pikap.

Sial.

DUARRR!

Kakiku terangkat dari tanah, dan aku terhempas ke belakang menerobos pintu kayu lumbung yang hancur.

Aku mendarat di punggungku, dan rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh tubuhku. Kelap-kelip bintang di langit malam mulai berubah menjadi bintik hitam buram.

Saat asap mengepul ke tempat terbuka dan aroma minyak yang terbakar membuatku kewalahan, aku pun tak sadarkan diri.

ALEX

Udara malam yang sejuk terasa sempurna saat aku menyesap bir di atas menara air tua yang menghadap ke hutan.

Secara teknis, tempat ini berada di luar batas kawanan, tetapi ini benar-benar tempat terbaik untuk melepaskan diri dari semuanya—politik, masalah kawanan, tekanan.

Aku melirik ke kanan dan melihat bahwa Dominic telah menghabiskan empat kaleng bir, dan dia mulai meminum yang kelima.

Sial, aku harus menyusul.

“Sejak kapan kau menjadi begitu payah?” Dom bertanya menggoda.

“Apa kau tahu, semua bir itu membuat perutmu gendut. Mungkin itu sebabnya kau masih belum kawin,” balasku, menyenggol tulang rusuknya. “Jodohmu melihat perut itu dan melarikan diri.”

“Itu disebut tubuh kebapakan, Alex. Bentuk tubuh ini sangat populer. Serigala betina menyukainya,” jawabnya sambil menyeringai.

Dom adalah sahabatku sejak kami masih kecil, meskipun aku senang menggodanya, aku tetap merasa bahwa aku menahannya.

“Kau tahu, kau bebas pergi mencari jodohmu kapan pun kau mau. Aku bisa menjaga dengan baik sendiri,” kataku, dengan nada serius. “Jangan bertahan di sini demi aku.”

“Alex, kita sudah membahas ini, dan jawabanku masih sama. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Dengar, kawan, aku tahu bahwa aku pernah berada di situasi yang buruk, tetapi aku bersumpah bahwa aku baik-baik saja sekarang,” kataku, berusaha terdengar meyakinkan.

“Masa duka telah berlalu. Sudah enam bulan sejak Olivia…sejak dia…” Suaraku menghilang saat tenggorokanku mengering.

Menyebut namanya dengan lantang saja membuatku merasa seperti ada yang menjatuhkan setumpuk batu bata perak di jantungku.

“Sungguh, aku baik-baik saja,” kataku, berbalik dan menghapus air mata yang mengalir di mataku.

“Benar-benar meyakinkan,” kata Dominic, mendesah sambil meletakkan tangannya di bahuku.

“Alex, kau telah kehilangan jodohmu. Itu terjadi secara tiba-tiba, dan kau bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kau tidak mungkin bisa langsung bangkit kembali dari peristiwa itu, dan itu tidak apa-apa. Ini bukanlah balapan.”

Aku tahu dia benar. Kematian Olivia telah menciptakan lubang dalam diriku. Seakan inti kehidupanku telah dicabut dari tubuhku, dan sekarang ada kekosongan gelap di dalam diriku yang tidak dapat diisi.

Tidak ada yang bisa menyembuhkan luka menganga seperti itu.

“Dengar, Dom, aku menghargai kehadiranmu di sini untukku, tetapi jika itu malah mengorbankan dirimu sendiri—”

DUARRR!

Birku tumpah ke seluruh tubuhku saat ledakan besar mengguncang menara air yang sudah reyot.

Kepulan asap hitam muncul dari hutan di kejauhan saat bara api mewarnai langit menjadi merah.

Aku menoleh kepada Dom. Dia terlihat sama terkejutnya denganku.

“Aku pergi,” kataku tiba-tiba.

Mungkin karena birnya, atau mungkin karena semua pembicaraan tentang Olivia, tapi entah kenapa, aku merasa harus melakukan ini.

“Alex, kau sudah gila? Itu jauh di luar batas kawanan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,” katanya, meraih lenganku.

Kau tidak bisa membiarkan aku?” Aku bertanya dengan nada yang mengingatkan dia bahwa akulah yang memimpin di sini.

Dom menggeram tunduk. “Sial, kenapa aku susah payah mencoba? Baiklah, jika kau bersikeras untuk melakukan hal bodoh, aku akan ikut denganmu.”

“Tidak, pergilah cari bantuan dan bawa sekawanan prajurit. Harus ada yang memperingatkan kawanan.”

Dom menggeram lagi dan melompati pagar, bergelantungan di sisi menara. “Baiklah, jangan lakukan hal bodoh,” katanya, sebelum menghilang ke puncak pohon.

***

Napasku hampir habis saat mencapai lembah, tempat ledakan itu terjadi. Sangat mudah untuk melacak aroma yang membakar, tetapi ada sesuatu yang lain…jelas ada serigala.

Aku berjongkok di semak-semak yang berbatasan dengan lembah, mencari tanda-tanda serigala liar itu, tetapi aroma serigala ini tidaklah liar.

Aromanya menyenangkan, seperti madu dicampur dengan blackberry.

Melalui lapisan asap yang tebal, aku melihat seseorang tergeletak di tanah.

Aku meninggalkan tempat persembunyianku untuk melihat lebih dekat dan mataku terbuka lebar melihat pemandangan di depanku…

Seorang gadis, berlumuran darah dan abu, terbaring diam, terluka dan memar. Sinar cahaya bulan menembus asap, meneranginya seperti malaikat yang jatuh.

Saat aku melangkah mendekat, hanya satu pikiran yang terlintas di benakku…

Siapa serigala betina yang cantik ini?

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?