logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Sang Pengganti

Jessica baru saja mendapatkan pekerjaan idaman seumur hidup, bekerja sebagai tangan kanan Scott Michaels. Satu-satunya masalah adalah Spencer Michaels, CEO lainnya—dan pria yang jabatannya akan digantikan Jessica. Ketika dia tahu tentang Jessica, Spencer berusaha keras untuk memastikan bahwa gadis itu tahu posisinya… Dan meskipun Spencer buta, tengah menghadapi perceraian, dan sosok pria yang benar-benar berengsek, Jessica tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadanya.

 

Sang Pengganti – Rebecca Robertson

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

RINGKASAN

Jessica baru saja mendapatkan pekerjaan idaman seumur hidup, bekerja sebagai tangan kanan Scott Michaels. Satu-satunya masalah adalah Spencer Michaels, CEO lainnya—dan pria yang jabatannya akan digantikan Jessica. Ketika dia tahu tentang Jessica, Spencer berusaha keras untuk memastikan bahwa gadis itu tahu posisinya… Dan meskipun Spencer buta, tengah menghadapi perceraian, dan sosok pria yang benar-benar berengsek, Jessica tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadanya.

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Rebecca Robertson

JESSICA

Aku menyipitkan mata melihat siaran pers di layar ponselku: “GRUP HOTEL MICHAELS MENGUNGKAPKAN RENCANA RENOVASI DI TUSCANY.” Di bawah judulnya ada foto dua bersaudara Michaels yang sangat fotogenik: Scott dan Spencer.

Kedua bosku.

Aku melihat wajah mereka yang tersenyum, berteriak dalam hati, Sial, sial, sial. Siaran persnya muncul lebih awal—seharusnya tidak ditayangkan sampai minggu depan. Scott akan mengalami kehancuran.

Namun, aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Aku membuka pintu ruang rapat dan melihat meja penuh dengan pria.

Mereka semua pria paruh baya, mengenakan setelan jas karya desainer atau semacamnya, dan menatapku dengan heran.

Mereka mungkin tidak mengharapkan seseorang semuda aku untuk menjadi tangan kanan Scott Michaels.

Karena Spencer mengambil cuti dari mengelola perusahaan pengembangan hotel mereka yang sukses, Scott mempekerjakan aku untuk melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukannya. Mendapatkan pekerjaan itu sama mengejutkannya bagiku seperti halnya bagi orang lain.

Memang, aku lulusan universitas terkemuka dengan gelar kehormatan dalam bisnis, tetapi bukan itu yang dilihat oleh pria-pria seperti yang duduk di meja rapat ketika mereka melihatku. Tidak, orang-orang ini melihat seorang gadis cantik berusia 25 tahun, dengan rambut merah yang indah dan senyum yang sempurna.

Itulah mengapa aku harus bekerja lebih keras, bicara lebih jelas, dan berpikir lebih cerdas daripada semua orang di ruangan itu. Aku adalah orang yang menyenangkan, tentu saja, tetapi aku tidak dapat membuat siapa pun berpikir bahwa aku mendapatkan pekerjaan itu karena alasan apa pun selain kemampuanku.

“Selamat pagi, Tuan-tuan.” Aku mengangguk kepada mereka saat duduk di meja. “Scott menyesal karena tidak bisa hadir. Dia sedang sibuk di kantor, tapi aku berjanji akan memberikan gambaran menyeluruh tentang presentasi Anda sekalian.”

“Kau satu-satunya orang yang dikirimnya?” tanya Pak Wallace, pria berjas abu-abu arang, sambil mendecakkan lidah.

“Saya adalah analis bisnisnya, Pak Wallace, jadi ya, saya akan berada di sini untuk menganalisis proposal bisnis Anda.” Pria itu jelas kesal karena dia akan mengajukan proposal bernilai jutaan dolar kepada seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya, tapi aku tidak peduli. “Kau bisa memulainya kapan pun kau siap.”

Pria itu menghela napas dan menyelipkan sebuah map ke arahku. Aku membukanya, melihat banyak dokumen dengan angka di dalamnya. Aku mengintip saat dia mulai bicara.

“Relaksasi Tropis dikenal dengan spa-nya di seluruh dunia. Kami tahu bahwa kemitraan dengan Grup Hotel Michaels akan meningkatkan keuntungan bagi kita berdua. Jika kau melihat angka-angka yang tertera di lembar pertama, kau akan melihat laba kami bulan lalu di sebuah hotel yang ukuran dan lokasinya sama dengan tempat Delilah Estate-mu berada.”

Delilah Estate adalah hotel yang kami miliki di Tuscany, yang ingin kami ubah. Rencana perubahan itu termasuk penambahan spa canggih, dan karena alasan itulah aku berada di ruang rapat ini. Relaksasi Tropis hanyalah salah satu dari banyak perusahaan spa yang ingin memenangkan tender.

Aku menutup map dokumen dan menatap mata Pak Wallace. “Katakan kepada saya, apa layanan spa Anda yang paling menguntungkan?” Sebagai seorang analis, mudah untuk hanya membaca angka-angkanya, tetapi itu tidak pernah memberi gambaran lengkap.

Alasan mengapa aku menonjol di universitas, dan alasan mengapa aku mendapatkan pekerjaan ini, adalah karena aku pandai membaca lebih dari sekadar angka. Aku pandai membaca orang.

Pak Wallace mengedipkan mata ke arahku. “Layanan kami yang paling menguntungkan? Facial wajah khas, tentu saja. Ini menarik setiap macam klien—pria, wanita, muda, tua. Kami tidak pernah kekurangan permintaan terkait hal itu di salah satu spa kami.”

Aku mengangguk, mendorong kursiku ke belakang dan berdiri. “Terima kasih, Tuan-tuan,” kataku sambil tersenyum kepada mereka. “Saya akan membawa ini kembali ke—”

“Apa? Hanya itu saja?” Tangan kanan Pak Wallace, yang mengenakan setelan biru tua, berteriak dari kursinya. “Kau mengajukan satu pertanyaan kepada kami lalu pergi? Kau bahkan belum berada di sini sepuluh menit!”

“Saya sudah membaca proposal Anda dengan baik dan—”

“Apa usiamu sudah 20 tahun? Kau belum cukup lama hidup untuk bisa membaca apa pun dengan baik!”

Aku berhenti bergerak, menatap lurus ke arahnya. “Saya sudah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa bisnis yang Anda jalankan berdasarkan konvensi, bukan inovasi. Staf Anda melihat apa yang ada di halaman buku, bukan apa yang tersirat di sana.”

Aku melihat mata Pak Wallace menyipit, dan terus melanjutkan ucapanku. “Pijat Swedia adalah layanan Anda yang paling menguntungkan, Pak Wallace. Saya tahu itu hanya dengan sekali melihat angka-angkanya. Tentu, angka yang menunjukkan penggunaan facial wajah sangat mengesankan — tapi mereka mengabaikan biayanya. Biaya semua bahan yang dibutuhkan.”

“Kau pikir kau bisa melakukan pekerjaanku lebih baik dariku?” Pak Wallace mendidih, perlahan bangkit dari kursinya.

Ya, bodoh.

Namun, aku tidak mengatakan itu. Sebaliknya, aku berkata, “Anda menjalankan bisnis yang hebat. Namun, saya bisa melihat bahwa Relaksasi Tropis senang melakukan operasinya dengan aman, seperti biasanya. Scott tengah mencari sesuatu yang baru dengan proyek ini. Sesuatu yang segar. Namun, seperti yang saya katakan, saya akan menunjukkan proposal Anda kepadanya.”

Aku mengambil map dari meja dan berbalik untuk pergi. “Selamat tinggal, Tuan-tuan,” kataku sambil membuka pintu ruang rapat. Saat aku berjalan keluar menuju lorong, aku cukup yakin aku mendengar salah satu dari mereka menyebutku sebagai wanita jalang menyebalkan.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku bertanya-tanya mengapa Scott mengirimku ke sini—Relaksasi Tropis memiliki reputasi sebagai perusahaan tua dan membosankan, berkebalikan dengan merek yang kami usung. Dan lebih dari itu, sangat tidak wajar bagi bosku untuk mengirimku ke rapat proposal sendirian.

Scott Michaels mungkin dilahirkan dan dibesarkan untuk pekerjaannya, tetapi itu tidak berarti bahwa dia menyia-nyiakannya. Yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Scott hidup dan bernapas untuk perusahaannya—dia mengawasi setiap keputusan secara pribadi, tidak peduli seberapa kecilnya.

Itulah sebabnya, ketika dia mengirimiku email di menit terakhir pagi ini dan memintaku untuk menghadiri rapat ini sendirian, rasanya sedikit aneh.

Apa pun alasannya, aku telah menyia-nyiakan waktu setengah jam pagi itu, dan aku sangat ingin kembali bekerja.

Ketika taksi berhenti di gedung Grup Hotel Michaels yang mengesankan, aku melompat keluar dan bergegas melewati pintu.

Pada saat aku naik lift ke lantai paling atas, ke tempat di mana kantor Scott dan kantorku berada, aku memiliki kesempatan untuk mengeluarkan teleponku dan memeriksa email. Ada 44 email baru yang masuk sejak terakhir kali aku memeriksanya.

Hebat.

Aku sedang berjalan, dan hendak berbelok ke kantorku, ketika aku mendengar suara-suara keras berteriak dari dalam kantor Scott di seberang lorong. Jadi, itu pasti pertemuan yang membuat Scott tak bisa ke mana-mana. Pintunya terbuka sedikit, tapi aku hanya bisa melihat punggung Scott di dalam.

Sungguh beraninya kau—” seorang pria bergemuruh.

Aku mendengar Scott menghela napas. “Bisakah kau bersantai sebentar, agar aku bisa menjelaskan—?”

“Menjelaskan apa? Bagaimana kau diam-diam tanpa sepengetahuanku melakukan satu hal yang telah kita sepakati tidak akan kau lakukan?”

“Kau membuatnya terdengar seperti tindakan pengkhianatan, Spencer.” Spencer. Spencer Michaels. Kakak laki-laki Scott. Dan bosku yang lain. Secara teknis. “Bukannya aku melakukannya karena dendam—ayolah, kau tahu itu. Namun, aku tidak bisa menanggung semuanya, tidak sendirian—”

“Siapa kau?” sebuah suara kecil berkata dari bawahku, dan aku tersentak dari aksi mengupingku ketika melihat sesosok gadis kecil, mungkin berusia lima tahun. Dia mengenakan rok tutu dan rambutnya dikuncir ekor kuda. Aku melihat sekeliling untuk melihat siapa orang tuanya, tapi tak melihat siapa pun di sana.

“Aku Jessica. Di mana orang tuamu?” tanyaku sambil berjongkok.

Namun, bukannya menjawab, gadis itu malah meraih tanganku dan menarikku ke seberang lorong, ke kantor Scott. Dia melepaskan tangannya saat aku berdiri di tengah ruangan.

Kedua pria itu berhenti bicara, dan aku memandang Scott terlebih dahulu, memberinya pandangan maaf mengganggu sebelum beralih ke kakaknya.

Wah.

Aku belum pernah melihat Spencer Michaels secara langsung sebelumnya. Segala sesuatu tentangnya, mulai dari rambut pirangnya yang kotor, rahangnya yang berbentuk persegi, hingga lengannya yang berotot yang ditutupi kemeja berkancing, membuatku mengeluarkan air liur. Pria itu tampak bagaikan dewa Yunani.

“Siapa dia?” tanya gadis kecil itu lagi sambil menunjuk ke arahku.

“Leila, ini Jessica,” jawab Scott. “Leila adalah putri Spencer,” katanya kepadaku, tapi sebelum aku bisa menjawab, Spencer memulai lagi.

Ini orangnya?” dia mengamuk. “Ini anak berusia 25 tahun yang kau pekerjakan untuk mengambil alih pekerjaanku?

Aku kemudian tersadar bahwa argumen yang kudengar adalah tentangku.

“Dia tidak mengambil alih pekerjaanmu, Spencer.”

“Aku bisa kembali lagi nanti,” kataku, tapi Spencer menyela.

“Leila, ambil makanan ringan dari dapur,” perintahnya kepada putrinya.

“Aku tidak lapar!”

Leila,” ulangnya. Aku mengamatinya saat dia menyilangkan tangan di depan dada dan melangkah keluar dari ruangan. Kemudian Spencer menoleh ke arahku.

“Katakan kepadaku, apa yang membuatmu berpikir bahwa kau begitu berkualifikasi untuk membantu menjalankan perusahaan yang telah menjadi milik keluargaku selama 65 tahun? Katakan mengapa kau pikir kau begitu pantas,” dia menyembur ke arahku.

Padahal dia sama sekali tidak menatapku. Mata hijau zamrudnya tertuju sekitar dua inci di sebelah kiri tempatku berdiri. Aku tahu Spencer Michaels buta, itu bukan rahasia lagi. Setiap orang yang membaca tabloid apa pun tahu itu.

Dia menjalani operasi otak tahun lalu, dan ketika terbangun dari operasi, dia tidak bisa melihat apa-apa. Itulah sebabnya dia menjauh dari perusahaan untuk sementara waktu. Tentu saja ini adalah peristiwa yang sangat tragis, apalagi mengingat istrinya sudah mengajukan gugatan cerai tidak sampai tiga bulan kemudian. Namun, saat ini aku sama sekali tidak merasa kasihan kepadanya.

“Maaf?” tanyaku, tidak akan membiarkannya menghinaku.

“Apakah ucapanku tidak jelas? Kau melakukan pekerjaanku—pekerjaan yang mana aku telah menghabiskan waktu selama satu dekade. Di sini terjalin hubungan-hubunganku, tempatku berproses, dan kau memanfaatkan perusahaan keluarga aku.”

“Yah, aku minta maaf jika fakta bahwa diriku dipekerjakan menjadi kejutan bagimu, tapi aku mendapat kesan kau tahu,” kataku, menatap Scott. “Dan hanya karena aku tidak diberikan tanggung jawab untuk mengelola bisnis keluargaku, bukan berarti aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Aku telah bekerja keras untuk bisa sampai ke sini, dan aku cukup hebat dalam pekerjaanku.”

Scott mengangguk. “Jessica sangat membantu di sini. Dengan kepergianmu, aku butuh seseorang untuk membantuku menangani semuanya—”

“Aku baru pergi beberapa bulan!”

“Enam bulan, Spencer. Dan kau tahu aku baik-baik saja dengan kau mengambil semua waktu yang kau butuhkan. Namun, aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Spencer mendesah keras, dan kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia mengambil beberapa langkah ke arahku, sehingga hanya ada jarak satu inci yang memisahkan kami. Dan tubuhku…rasanya seperti terbakar.

Kali ini, matanya tepat terarah kepadaku, tidak satu inci pun ke samping. Rasanya seperti dia sedang membacaku, meskipun aku tahu itu tidak mungkin.

“Jess, bukan?” tanyanya, napasnya terasa panas di pipiku.

Ini sangat tidak pantas.

“Jessica,” aku menjawab.

“Yah, Jess, lanjutkan pekerjaanmu dengan hati-hati. Karena aku akan mengawasi setiap gerakanmu di sini. Dan aku bukan bos yang sebaik adikku.”

Kemudian Spencer meninggalkan kantor, dan aku mendengar dia memanggil putrinya saat berjalan menyusuri lorong. Aku mengembuskan napas yang tidak kusadari telah kutahan.

“Siaran pers itu…” Scott mulai bicara, tapi aku tidak bisa fokus. Pikiranku masih tertuju kepada Spencer Michaels dan mata hijaunya yang berkilau.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

JESSICA

GEDEBUK.

Buku catatan harianku jatuh dari meja. Sial. Terlalu berantakan. Seluruh kantor terlalu berantakan. Aku bangkit dan berjalan mengitari meja untuk mengambilnya. Aku membungkuk, meraih buku agendaku, ketika aku mendengar seseorang berdeham di belakangku.

“Itu bukan posisi yang profesional,” aku mendengar suara seorang pria.

Aku berbalik, dan melihat Spencer Michaels. Dengan sosoknya yang tinggi, berotot, dan layaknya patung yang dipahat. Aku merasa pipiku panas.

“Bagaimana…bagaimana—?”

“Bagaimana aku bisa melihat?” dia bertanya dengan seringai. Spencer Michaels, salah satu dari dua pimpinan perusahaan ini, buta. “Aku bisa mendengarmu mengubrak-abrik di bawah sana. Yang berarti tanganmu berada di lantai, dan aman bagiku untuk berasumsi bahwa pantatmu ada di udara.”

“Maaf…” aku tergagap, kaget pria ini—bosku—bicara dengan begitu lancang.

“Jangan khawatir. Aku yakin kelihatannya bagus,” katanya, melangkah lebih dekat ke arahku. “Bahkan mungkin lebih dari bagus.”

“Apa yang kau lakukan, Pak Michaels?” Aku melangkah mundur saat dia hanya selangkah dariku. Aku sudah bersandar di mejaku—aku tidak bisa mundur lebih jauh. Dan aku tidak tahu apakah dia sengaja melangkah begitu dekat denganku, atau dia tidak tahu di mana aku berada.

“Oh, Jess, kau bisa memanggilku Spencer.”

“Namaku Jessica. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Sudah kubilang aku akan mengawasimu, bukan?” dia menghela napas, wajahnya bersandar di dekatku. Seluruh tubuhku gemetar. Ini salah. Dia seharusnya tahu apa yang dilakukannya. Dia pasti tahu bagaimana efek yang ditimbulkannya padaku.

“Apakah Scott tahu kau di sini?” Aku tergagap.

Namun, Spencer tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengangkat jari ke wajahku, perlahan menyeretnya dari pelipisku ke telingaku. Sentuhan lembut itu membuat tulang punggungku merinding, dan aku merasakan panas dalam diriku mulai tumbuh.

Tuhan, dia seksi.

Jessica, hentikan itu. Dia bosmu.

Namun, suara batinku segera bungkam begitu jarinya melingkarkan sehelai rambut merah panjangku. Dia menariknya erat-erat, dan rasa sakitnya terasa enak. Sebuah erangan keluar dari mulutku.

“Kau suka itu?” dia berbisik.

Sial. Apa yang dilakukan pria ini kepadaku?

Dia melepaskan seikat rambut dan menyelipkan jarinya kembali ke pipiku, ke mulutku, dan kemudian, dia menguraikan bibirku. Aku bisa merasakan basah di antara kedua kakiku, padahal dia hanya menyentuhku dengan satu jari, tidak lebih.

Ini gila.

Apa yang kau lakukan, Jessica?

Namun, kemudian dia mendorong jarinya di antara bibirku, ke dalam mulutku, dan aku mulai mengisapnya, seolah aku memang ditakdirkan untuk melakukannya. Mataku terkunci padanya, dan dia melihatku balik, tepat ke arahku. Tidak masalah dia tidak bisa melihat. Aku tahu dia bisa merasakan tatapanku.

Dia menggerakkan jarinya masuk dan keluar dari mulutku, dan aku mengisapnya, memutar lidahku di sekitarnya. Itu adalah hal paling erotis yang pernah kualami. Itu adalah tindakan yang tak salah, meski di sisi lain, juga sangat salah.

Aku menginginkan lebih. Aku perlu merasakan dia bergerak secepat ini di tempat lain, lebih dalam ke dalam diriku, lebih jauh di dalam… Aku sangat berhasrat, tapi aku membutuhkan pelepasan. Aku perlu mengeluarkannya sekarang!

Aku sudah nyaris orgasme. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana aku bisa sedekat ini dengan—?

TOK,TOK, TOK.

“JESSICA!”

Aku terlonjak di tempat tidurku, jantungku berpacu dengan kecepatan satu mil per menit. Aku melihat sekeliling. Aku berada di kamar tidurku. Di apartemenku di London Barat. Aku memejamkan mata. Aku masih bisa merasakan sisa-sisa gairahku.

Namun, itu hanya mimpi. Hanya mimpi basah sialan. Tentang bosku.

TOK, TOK, TOK.

“JESSICA, BUKA PINTU SIALANMU!” Aku mendengar suara Sam berteriak dari lorong luar. Aku berlari keluar dari tempat tidur ke pintu depan dan menemukan kakak laki-lakiku balas menatapku.

“Kau tidak pernah tidur hingga siang seperti ini.”

“Jam berapa sekarang?” tanyaku menuntut.

Dia mengangkat teleponnya ke arahku, dan aku melihat waktu di layar. 08:17.

“Sial!” Aku berteriak, berlari ke kamar mandi. “Aku pasti tak mendengar bunyi alarm. Itu tidak pernah terjadi. Scott akan membunuhku!” Aku menangis sambil mengoleskan foundation ke seluruh wajahku.

Namun, Sam hanya berjalan masuk melalui pintu sambil tertawa.

“Apa?” tanyaku kepadanya.

Dia mengangkat layar ponsel lagi. Kali ini, pukul 06:43 pagi.

Keparat itu terus tertawa. Lebih keras sekarang, sebenarnya.

Aku menghela napas. “Aku akan membalasmu suatu hari nanti,” janjiku.

“Aku akan menantikannya,” jawabnya dengan senyum lebar.

***

“Kau tidak perlu khawatir—” kata Scott Michaels dari belakang mejanya. Namun, aku melambaikan stiker post-it di depan wajahnya. Stiker post-it yang mengejekku sejak aku masuk ke kantorku.

“Ini memberitahuku bahwa aku perlu khawatir! Apakah kau melihat apa yang dikatakannya?”

Scott menghela napas. “Aku mengerti apa yang dikatakannya, Jessica. Dia hanya berusaha memastikan perusahaan berada di tangan yang tepat.”

“Katanya, dan aku kutip, Aku mengawasimu.” Sungguh ironis, mengingat itu berasal dari Spencer Michaels. Spencer Michaels, yang buta. Namun, aku tidak mengungkapkan ironi itu pada Scott. “Aku tidak mengerti mengapa kau tidak memberitahunya tentang aku sebelumnya.”

“Karena alasan ini. Aku tidak ingin dia panik.”

“Yah, hasilnya baik,” jawabku, sebelum menyadari sikap burukku. “Maaf. Stres yang kuhadapi setiap hari sudah cukup banyak, belum lagi bonus tambahan berupa bos lainnya yang terus mengawasiku.”

“Dia tidak akan benar-benar mengawasimu, Jessica.”

Aku mengangguk, meski masih merasa ragu. Namun kemudian, sesuatu menyadarkanku. “Apakah kontrakku…apakah kontrakku masih aman? Dia tidak bisa secara teknis membatalkannya atau semacamnya, kan?”

“Kau terlalu menganggap serius leluconnya.”

“Aku hanya ingin memastikan.”

“Percayalah kepadaku, Jessica. Spencer memiliki cukup banyak masalah di luar Grup Hotel Michaels untuk menyita perhatiannya,” Scott memberitahuku.

“Maksudmu, perceraiannya?”

“Perceraian, perebutan hak asuh…” Hah. Bagian itu belum ada di tabloid.

“Perebutan hak asuh? Aku belum mendengar tentang itu.”

“Yah, Spencer berusaha keras menyembunyikannya dari pers karena suatu alasan,” kata Scott sambil menatapku. Tatapan yang mengatakan, sekarang aku tahu kau membaca tabloid.

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak tertarik, Scott. Kita harus memikirkan nama baik perusahaan. Jika Spencer dijelek-jelekkan di tabloid, maka itu tidak akan merefleksikan perusahaan dengan baik—”

“Spencer tidak akan dijelek-jelekkan di tabloid. Mantan istrinya yang jalang telah berselingkuh, dan langsung mengajukan perceraian begitu dia menjadi buta, dan sekarang menggunakan kebutaannya sebagai pembelaan untuk mengajukan permohonan hak asuh.”

Aku menelan ludah. “Benar.”

“Kau tak perlu mengkhawatirkan semua ini. Yang harus kau ketahui adalah Spencer sangat sibuk saat ini, jadi kau bisa fokus melakukan pekerjaanmu. Lupakan dia dan taktiknya untuk menakut-nakutimu,” katanya, menunjuk ke post-it di tanganku.

Aku mengangguk, meskipun tahu mustahil untuk melupakannya, dengan atau tanpa taktik menakut-nakuti. Bahkan, sejak aku bertemu Spencer Michaels kemarin sore, sejak aku memimpikan kelancangannya, sentuhannya…aku tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku.

“Kau ada acara minum teh dengan Craig pada pukul satu siang. Jangan terlambat,” kata Scott, menyadarkanku dari khayalanku.

Aku mengangguk lagi. Craig Sharp, ayah dari tunangan Scott, adalah penasihat bisnis yang sangat penting bagi perusahaan.

Craig telah meminta Scott untuk menyiapkan acara minum teh agar dia bisa mengenalku. Namun, aku tahu apa artinya mengenal. Itu berarti penghakiman. Itu berarti mencari tahu apakah pekerja wanita baru berusia 25 tahun itu kompeten, atau apakah dia hanya sekadar wanita yang memiliki pantat bagus.

Aku kembali ke kantorku, siap untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum aku harus pergi menghadiri acara minum teh. Aku sebenarnya agak menantikannya. Terlepas dari apakah Craig sosok yang menyebalkan atau tidak, dia akan menjadi pengalih perhatian yang baik.

Dan saat ini, aku akan menyambut segala jenis gangguan dengan senang hati. Apa pun untuk mengalihkan pikiranku dari sosok berwajah tampan dengan mata hijau. Apa pun.

***

Aku berjalan sendiri ke Hotel Ritz di Piccadilly, London, dan melihat Craig Sharp sudah duduk di meja. Wajahnya tampan untuk usianya, dengan rambut perak dan kulit berwarna cokelat tua. Ketika melihatku datang, dia bangkit untuk menyambutku.

“Kau pasti karyawan baru Scott.”

“Jessica,” kataku sambil menjabat tangannya.

“Ayolah, Jessica. Mari kita minum.”

Craig melambai ke pelayan dan memesan dua wiski, tanpa es. Alisku terangkat—saat itu pukul satu hari Selasa, tapi Craig tampaknya tidak keberatan sedikit pun.

“Kudengar kau melakukan pekerjaan dengan baik,” kata Craig setelah dia meneguk minumannya untuk pertama kali. Dia menatapku, siap menilai jawaban apa pun yang kuberikan kepadanya.

“Sungguh suatu kehormatan untuk bekerja untuk Michaels bersaudara sejauh ini.”

“Sudah cukup jawaban ala kontes itu, Jessica. Acara teh ini untuk curhat.”

“Dan menurut Anda apa yang harus saya ceritakan?”

“Lihat dirimu. Seorang wanita muda yang menarik, bekerja di perusahaan yang penuh dengan pria yang haus kekuasaan. Kau pasti tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi di sana.”

“Seorang wanita tidak pernah mengungkapkan rahasia, Tn. Sharp.” Aku tersenyum, meneguk minumanku.

“Jangan dengarkan ucapannya, Craig. Jess belum cukup umur untuk menjadi seorang wanita.” Mendengar suaranya, aku hampir tersedak wiski. Aku memutar kepalaku, dan di sanalah dia.

Spencer Michaels.

Mengenakan sweater kasmir abu-abu dan celana jins, kulitnya yang perunggu dan rambutnya yang terang tampak semakin keemasan. Dia tampak seperti Hercules, jika Hercules bersekolah di Oxford.

“Spencer. Sudah lama tidak bertemu, temanku,” kata Craig, menjabat tangannya.

“Apa yang sedang kau lakukan dengannya?” sahut Spencer, mengangguk ke arahku.

Namaku Jessica,” aku berhasil mengendalikan diri.

“Berusaha untuk sedikit mengenalnya. Scott bilang dia akan ada selama beberapa waktu—”

“Benarkah dia berkata begitu?” Spencer tersenyum.

“Apa yang kau lakukan di sini, Spencer?” tanyaku, berusaha terdengar benar-benar penasaran.

“Aku ada rapat. Tamuku terlambat. Kau tidak keberatan jika aku duduk, kan?” dia bertanya, sudah duduk di kursi.

“Aku akan mengambilkanmu minum,” Craig mengumumkan, menuju ke bar.

“Kau menyusup ke semua tempat yang tepat,” kata Spencer kepadaku.

“Menyusup? Aku bukan James Bond.”

“Tentu saja tidak, apalagi dengan tubuh itu,” jawabnya, dan pipiku terbakar. Apakah dia baru saja mengatakan…? “Ya. Di bawah cahaya tertentu, aku bisa melihat bentuk. Kau sudah menerima pesanku?”

“Ya. Terima kasih untuk itu,” kataku singkat, mencoba mengendalikan tubuhku, memaksa diriku untuk tetap profesional. Namun, dia menggeser kursinya lebih dekat ke kursiku, dan itu cukup untuk mengangkat bulu kudukku.

“Jess, aku akan bicara jujur denganmu. Aku tidak senang kau telah dipekerjakan—”

“Ah, itu sungguh mengejutkan.” Namun, saat aku mengatakan itu, Spencer Michaels menjatuhkan tangannya ke pahaku, membungkamku. Napasku tercekat, dan segera, panas meledak di antara kedua kakiku. Dia mendekat, jadi mulutnya tepat di sebelah telingaku.

“Aku tidak senang kau dipekerjakan, tapi aku tidak keberatan dengan reaksimu saat melihatku,” bisiknya.

“Apa?” tanyaku dengan keras.

“Menjadi buta membuat fungsi indraku yang lain semakin meningkat.”

“Lalu?”

“Aku bisa mencium aromamu, Jess. Aku bisa mencium gairahmu.”

Maaf?” tuntutku, melompat dari kursiku, tapi Spencer berdiri juga.

“Maafkan aku,” katanya sambil tersenyum, lalu dia berjalan ke meja lainnya, dan duduk.

“Apakah semuanya baik-baik saja? Di mana Spencer?” Craig Sharp bertanya ketika dia kembali ke meja dengan minuman segar. Aku menunjuk—aku tidak bisa berbuat banyak lagi. Aku masih mencoba mencari tahu apa yang baru saja terjadi.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?