logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Peperangan Serigala

Setelah Perang Serigala, manusia serigala dan manusia menyetujui gencatan senjata yang kurang meyakinkan dan membagi dunia untuk mereka sendiri. Manusia serigala mengambil hutan dan daratan, dan manusia mengambil perkotaan dan kota-kota kecil di sekitarnya. Ras manusia selanjutnya dipisahkan menjadi Pekerja dan Elite. Sekarang, makanan menjadi langka dan para Pekerja kelaparan, dan begitulah Ellie Pekerja yang berusia 12 tahun kelaparan dan terlunta-lunta di wilayah manusia serigala. Apakah manusia serigala benar-benar binatang menakutkan seperti yang telah diperingatkan kepadanya, atau apakah para Elite menyembunyikan kebenaran?

 

Peperangan Serigala – Michelle Torlot

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

Ringkasan

Dari penulis Choose Me or Lose Me.

Setelah Perang Serigala, manusia serigala dan manusia menyetujui gencatan senjata yang kurang meyakinkan dan membagi dunia untuk mereka sendiri. Manusia serigala mengambil hutan dan daratan, dan manusia mengambil perkotaan dan kota-kota kecil di sekitarnya. Ras manusia selanjutnya dipisahkan menjadi Pekerja dan Elite. Sekarang, makanan menjadi langka dan para Pekerja kelaparan, dan begitulah Ellie Pekerja yang berusia 12 tahun kelaparan dan terlunta-lunta di wilayah manusia serigala. Apakah manusia serigala benar-benar binatang menakutkan seperti yang telah diperingatkan kepadanya, atau apakah para Elite menyembunyikan kebenaran?

Rating Usia: 18+ (Peringatan Konten: Pemerkosaan dan Kekerasan)

Penulis Asli: Michelle Torlot

Di Seberang Perbatasan
Ellie

Aku duduk di batang pohon yang terbalik, menatap ke kejauhan. Matahari sudah rendah di langit, belum terbenam, membuat segala sesuatu bercahaya indah.

“Apa yang kamu lakukan, El?”

Aku mendongak untuk melihat kakak laki-lakiku, Jackson berdiri di atasku.

“Kau sangat dekat dengan perbatasan…kau tahu aturannya,” tegurnya.

Aku memutar mataku dan menatap ke arah cakrawala.

“Jangan macam-macam El. Mereka akan menghukummu hanya karena memikirkannya, dan kau akan diberi setengah jatah ransum selama sebulan,” Jackson memperingatkan.

Aku memutar mataku, “setengah dari bukan apa-apa masih bukan apa-apa.”

Jackson menyenggol bahuku.

“Nih, kau pasti lapar,” dia menyeringai.

Aku melihat tangannya. Mulutku terbuka lebar karena terkejut. Itu semacam makanan olahan. Kami tidak pernah makan itu, aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.

“A… Apa itu? Di mana kau mendapatkannya?” desisku, saat aku melihat kemasan makanan itu di tangannya.

Dia membaginya menjadi dua dan memberikan setengahnya padaku, memakan setengah lainnya.

“Ini disebut Co-ke-lat,” dia mengucapkan kata itu, “dan jika kau tidak tahu, kau tidak akan mendapat masalah.”

Aku segera mulai memakannya, menikmati rasa manisnya. Sangat enak!

Aku tertawa kecil, “Dan kau mengomeliku, hanya karena aku melihat ke perbatasan.”

Jackson menggelengkan kepalanya.

“Itu berbeda, jika ketahuan, penjaga akan menembakmu di tempat.

“Jika ketahuan…” dia menunjuk ke arah cakrawala, “Yah, hanya Kristus yang tahu apa yang akan terjadi kepadamu…jika kabar itu benar,” pungkasnya.

Aku menggelengkan kepalaku, dan mengerucutkan bibirku.

“Makanan mereka berlimpah sampai bingung harus diapakan, sementara kita tidak. Hewan mereka makan lebih baik dari kita.”

Kutahan air mataku yang hampir jatuh. Untunglah Jackson tidak melihat kesusahanku.

Jackson terkikih, “Mereka benar-benar binatang, El.”

Aku memutar mataku saat mengunyah potongan terakhir camilan itu. Perutku masih terasa kosong, tapi cokelat tadi lumayan sebagai pengganjal perut.

Jackson meletakkan tangannya di bahuku.

“Ayo kita kembali sebelum ketahuan hilang. Kamu perlu tidur, singkirkan ide-ide konyol itu dari kepalamu.”

Aku berdiri dan mengizinkan saudara laki-lakiku untuk menggiringku kembali ke kamp kerja.

Kami akan bangun saat fajar, membongkar apa pun yang tersisa dari kota terdekat dari perbatasan. Kemudian buldoser akan masuk. Setelah itu kami akan memunguti batu sebelum mereka membajak dan menanaminya.

Tanah di situ bukan lahan pertanian yang layak. Kawasan ini adalah sisa-sisa kota tua, terlalu dekat dengan perbatasan untuk dihuni. Lagian, makanan sangat langka.

Jika ada kemungkinan mereka bisa menanam makanan apa pun, itu harus diambil.

Sudah seperti ini sepanjang hidupku, dan orang tuaku. Setelah perang, manusia mendapatkan bagian perkotaan dan kota-kota pinggirannya. Manusia serigala mendapatkan hutan dan dataran terbuka.

Cukup dengan melongok di balik pagar perbatasan, ada ternak yang sedang merumput, kebun buah-buahan, ladang yang penuh dengan tanaman.

Kota-kota kecil kondisinya sangat baik, tetapi susah bertanam di sana. Satu-satunya lahan adalah taman buatan manusia. Itu pun sudah bekas tanam. Tidak cukup.

Satu-satunya alasan aku dan kakakku selamat ketika orang tua kami meninggal, adalah karena kamp kerja.

Kerja 12 jam, dengan imbalan satu kali jatah makan. Jika kau bisa menyebutnya makan. Rebusan sayur yang lebih banyak airnya daripada sayurnya, dan tempat tidur.

Jika kau ketahuan mencuri makanan, hukumannya mati. Sama halnya dengan melintasi perbatasan. Jika manusia serigala tidak membunuhmu, kamu pasti mati ditembak para penjaga.

Hidup bagi manusia sama halnya dengan hidup di neraka. Harus sepadan dengan risikonya untuk menyeberangi perbatasan, mencuri beberapa makanan dan membawanya kembali.

Jika kami tidak menemukan cara untuk mendapatkan lebih banyak makanan, umat manusia akan mati kelaparan.

Para penjaga memandangi kami dengan penuh kecurigaan saat kami kembali ke kamp. Kami hanya menundukkan kepala. Begitu kami kembali ke benteng di mana tempat tidur kami disediakan, kami menuju ke ranjang susun kami.

Sebagian besar keluarga tidur bersama. Jika kau sendirian, kau akan disamakan dengan laki-laki atau perempuan. Tergantung jenis kelaminmu. Aku kira aku dan Jackson beruntung, kami saling memiliki.

Aku berbaring di tempat tidur, dan Jackson duduk di tepi tempat tidur. Dia selalu begitu, sampai aku tertidur.

“Apakah menurutmu mereka tahu kita hampir mati kelaparan?” aku berbisik.

Jackson mengerutkan kening, “Siapa?”

Aku ragu-ragu, merendahkan suaraku, “Manusia serigala.”

Jackson menggelengkan kepalanya, dan merengut.

“Biarkan saja, Ellie. Lupakan saja.”

Aku menghela napas dan memejamkan mata.

Aku tahu Jackson selalu melindungiku, tetapi jangan sampai aku mati kelaparan, atau mati akibat penyakit karena tubuhku tidak cukup kuat untuk melawannya.

Akhirnya aku tertidur, tapi tidak lama. Aku terbangun gegara rasa sakit yang menggerogoti perutku yang kelaparan.

Semua orang masih tidur, kecuali Jackson, yang anehnya tidak ada di ranjangnya.

Aku kepikiran cokelat batangan yang tadi kami makan bersama. Apakah dia mencuri makanan? Bagaimana dia bisa begitu ceroboh? Lalu pikiranku beralih ke perbatasan. Jika aku akan menyeberanginya, harus sekarang.

Jackson akan mengerti. Di malam hari, penjagaannya tidak terlalu ketat. Aku bisa menyelinap melintasi perbatasan, dan menyusup kembali. Cari tempat menyembunyikan makanan. Kemudian aku dan Jackson bisa berbagi.

Saat-saat putus asa membutuhkan tindakan putus asa, dan aku putus asa. Semuanya putus asa. Kami benar-benar kelaparan. Tampaknya memang tidak semua orang kelaparan, tapi kami adalah yang terendah dalam ras manusia.

Pekerja manual tingkat bawah. Kami sekali pakai.

Aku mengayunkan kakiku di atas tempat tidur, dan dengan cepat menarik rambut hitam panjangku menjadi kucir kuda. Lalu aku mengambil ransel kecil dari bawah tempat tidur, sebelum merayap keluar dari benteng ini.

Pakaianku gelap, jadi aku bisa bersembunyi di balik bayangan. Untung warna rambutku hitam, karena menyatu dalam gelap. Hanya bulan yang menerangi jalan.

Cukup lama aku merencanakan ini. Aku tahu persis di mana para penjaga ditempatkan. Mereka selalu mengambil rute yang sama, memeriksa perimeter dan perbatasan.

Aku menyaksikan penjaga berjalan ke seberang kamp dan menuju perbatasan.

Aku tetap berada di bayang-bayang sampai penjaga perbatasan menuju ke pos pemeriksaan berikutnya.

Untungnya perbatasan tidak dipagari. Perbatasan ini hanya berupa deretan batu-batu besar yang dicat. Semua orang tahu bahwa mereka dilarang melewati garis batas ini. Namun, malam ini, aku akan mengabaikan aturan. Malam ini aku akan mencari makanan.

Menyeberangi perbatasan ternyata lebih mudah dari yang kuduga. Para penjaga mungkin tidak berpikiran akan ada yang mencoba menyeberang.

Lagi pula, sebagian besar orang di benteng adalah anak-anak, yang telah diajari untuk tidak menyeberangi perbatasan sejak usia dini.

Mereka diajari aturannya, hukumannya, tapi yang terpenting mereka diajari bahwa manusia serigala adalah monster pemakan daging bayi.

Kami semua yatim piatu. Orang tua kami mati karena demam, atau kelaparan. Sebagian telah dibunuh oleh para penjaga, hanya karena mencoba mencuri makanan tambahan untuk anak-anak mereka.

Orang tua kami mati karena demam. Aku sudah hidup seperti ini selama empat tahun. Bekerja sampai hampir pingsan kelelahan. Jackson lebih tua dariku, dan lebih kuat.

Ini adalah tahun terakhirnya di sini, lalu aku akan sendirian. Jackson akan dikirim untuk pelatihan penjaga, kecuali dia tidak memenuhi panggilan pelatihannya. Aku penasaran apakah kepergiannya setiap malam ada hubungannya dengan itu.

Dia tidak menyadari bahwa aku tahu dia pergi pada malam hari. Aku hanya tidak tahu ke mana dia pergi.

Tanah di sisi lain garis perbatasan mirip dengan tanah kami, tanah liat keras yang harus digali. Tampaknya dicampur beton.

Begitu kau berada sekitar seratus meter, tanah liat yang keras berubah menjadi lempung, lalu akan terlihat tanaman menyembul dari tanah. Kebanyakannya gulma, tapi kemudian berubah menjadi rumput yang subur.

Aku membungkuk dan memainkan jari-jariku di atasnya. Aku belum pernah merasakan rumput sebelumnya. Aku pernah melihat gambar rumput ketika masih kecil, tetapi tidak pernah merasakannya, atau menciumnya. Rumput memiliki aroma tersendiri.

Aku hanya bisa tersenyum sendiri. Ayah selalu menceramahi kami semasa hidupnya. 'Rumput tetangga selalu lebih hijau,' katanya.

Artinya kita harus mensyukuri apa yang kita miliki. Sebenarnya, rumput itu tidak ada di tempat asal kami.

Aku menuju lebih jauh ke wilayah manusia serigala. Tetap merunduk, dan setenang mungkin.

Jackson tidak menyadarinya, tapi aku pernah melihat yang disebut monster ini. Di bangunan terakhir yang kami bersihkan, aku menemukan sebuah buku dan teropong.

Aku memasukkan teropong ke dalam jaketku, dan melihat buku itu. Para penjaga tidak menemukan teropong yang kusembunyikan, tetapi aku dipukuli hari itu karena beristirahat di jam kerja.

Waktu itu baru berakhir lima menit, tapi aturan tetaplah aturan. Jika saja mereka menemukan teropongnya, keadaannya akan jauh lebih buruk.

Aku menggunakannya beberapa hari kemudian, setelah bekerja. Para penjaga berada di pos pemeriksaan yang berbeda, tetapi masih terang.

Saat itulah aku melihat mereka. Mereka sedang bekerja di ladang. Mereka terlihat seperti kami juga, tapi lebih tinggi, lebih berotot.

Mengapa kami harus membenci mereka? Apakah mereka benar-benar berbeda dengan kami?

Saat itulah aku memutuskan untuk menyeberang. Mereka punya banyak makanan, kami tidak punya. Mereka tidak terlihat seperti monster, setidaknya tidak dari kejauhan.

Tentu saja tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka sekarang. Yang pikirannya waras, entah manusia serigala atau manusia, akan tidur pada waktu malam seperti ini.

Aku masuk lebih jauh ke wilayah mereka, lalu aku melihatnya di kejauhan. Sebuah bangunan… seperti sebuah gudang. Letaknya cukup dekat dengan kandang yang berisi hewan.

Aku cepat-cepat melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda siapa pun, jadi aku berjalan ke bangunan itu.

Tampaknya memang benar, gudang. Aku menggeser pintu, membiarkan cahaya bulan masuk ke dalam.

Aku hampir berteriak. Jackpot! Ada berkarung-karung buah dan sayuran. Juga sebuah kotak berisi roti basi. Aku mengambil sebuah apel dan menggigitnya.

Aku belum pernah makan apel sebelumnya, tapi aku pernah melihat gambarnya. Bagian dalamnya berwarna cokelat dan lembut. Rasanya enak.

Aku meraih segenggam dan memasukkannya ke dalam ranselku, sembari menghabiskan apel yang ada di tanganku. Lalu aku mengambil beberapa potong roti basi tadi. Keras, tidak lembut seperti seharusnya, tapi tidak berjamur.

Aku makan sedikit.Tidak seenak apel, tetapi pengemis tidak bisa memilih.

Sayurannya tampaknya wortel. Ada yang kecil, yang lain bentuknya aneh. Aku menggigitnya. Enak-enak saja. Aku memasukkan beberapa ke dalam ranselku yang sekarang sudah penuh.

Sambil meletakkannya di punggungku, aku mengambil apel dan sepotong roti lagi, dan berjalan menuju pintu.

Saat itulah aku mendengarnya. Lolongan, diikuti lolongan yang lain.

Aku berlari, jantungku serasa mau copot, aku kembali ke perbatasan.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

Ellie

Aku berlari kencang, tidak berani melihat ke belakang. Mungkin mereka yang tampak seperti orang normal itu berubah menjadi monster di malam hari. Mungkin mereka hidup di antara orang-orang normal. Aku tidak tahu.

Aku bertanya-tanya apakah para pengawas yang mengajari kami aturan itu tahu. Jika mereka tahu, mereka tidak mengatakannya kepada kami. Mereka cuma menakut-nakuti kami. Rasa ingin tahu bisa membunuh. Ini akan menjadi ajalku.

Ketika semakin dekat ke perbatasan, aku membeku. Aku bisa mendengar penjaga, dan mereka berteriak. Mereka pasti mendengar lolongan juga. Jika kembali sekarang, aku akan mati. Jika tinggal di sini, aku akan mati.

Di tengah kebingunganku, aku dengar suara tembakan yang keras dan rasa sakit yang menyayat di lenganku. Dengan menekan lenganku dengan tanganku, aku lari dari perbatasan. Aku bisa merasakan cairan mengalir di lenganku.

Syukurlah, satu-satunya monster yang bisa kulihat adalah para maniak yang memegang senjata. Aku melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan, aku kembali ke wilayah manusia serigala. Aku hanya harus mencari tempat untuk bersembunyi.

Aku segera memindai cakrawala. Melewati ladang tanaman dan gudang, ada beberapa hutan. Aku akan bersembunyi di sana sampai pagi.

Ketika cukup jauh dari perbatasan dan di luar jangkauan peluru, aku memeriksa lenganku. Parah. Tanganku tidak bisa menghentikan pendarahannya.

Aku merobek bahan rompi yang kukenakan, dan melilitkannya di lenganku. Aku mengikatnya sekencang mungkin, untuk menghentikan pendarahan.

Pada saat aku mencapai tepi pepohonan, aku mulai merasa pusing.

Suasananya sangat tenang. Bulan bersinar terang melalui kanopi pohon, pantulannya di tanah terlihat menakutkan.

Aku duduk di tanah, dan melepaskan ranselku. Bersandar di pohon, aku memejamkan mata sejenak.

Mataku terbelalak saat mendengar suara ranting patah.

Seorang pria lebih tepatnya raksasa, berdiri di depanku.

Dia melihat ranselku, lalu menatapku. Matanya menyipit.

“Apa yang kamu lakukan di sini, manusia?”

Aku merasa jantungku mulai berpacu, mulutku tiba-tiba kering.

“Aku…aku…” aku tergagap.

Dia mendekat. Saat dia mendekat, aku mundur ke pohon. Percuma, aku tidak bisa ke mana-mana. Kakiku tiba-tiba terasa seperti jeli.

“Kau terluka,” katanya.

Aku menatap lenganku. Perban darurat sudah basah oleh darah.

Ini dia. Aku akan mati kehabisan darah, atau pria atau monster di depanku ini akan membunuhku.

Apakah dia monster yang telah mereka peringatkan kepada kami? Dia memanggilku sebagai manusia, berarti dia adalah manusia serigala. Kenapa dia tidak berbeda dari kami? Memang dia sangat besar.

Bukan hanya tinggi, tapi juga berotot.

Dia memiliki rambut shaggy tipis, yang menjuntai ke bahunya, dan janggut dengan warna yang sama, dipangkas rapi.

Aku melihat dalam diam saat dia berlutut di sampingku. Dia memegang lenganku, dengan lembut tapi kuat, dan mulai membuka perban daruratku.

Dia mengerutkan keningnya, lalu menatapku.

“Kamu ditembak oleh kaummu sendiri!” serunya.

Aku mengangguk. Air mata menggenang di mataku, terpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa kembali. Tidak, kecuali aku punya keinginan mati. Aku menutup mataku. Aku tidak ingin meneteskan air mata.

Aku harus memberi kesan aku orang yang kuat, walau sebenarnya tidak.

Aku mengatupkan rahangku dan menarik napas dalam-dalam.

Ketika aku membukanya lagi, pria itu sedang melepas kausnya.

“Ini mungkin sedikit sakit, Nak,” katanya.

Dia merobek kausnya, dan mulai mengikat lenganku.

Aku mencoba meredam tangisan, yang keluar sebagai rengekan saat dia mengikat perban darurat.

Matanya kemudian kembali melihat ranselku. Aku mencoba meraihnya, tetapi dia terlalu cepat dan menyambarnya.

Ketika dia membukanya, wajahnya berubah menjadi seringai jijik.

“Mengapa kamu mencuri makanan busuk?” tanyanya.

Aku mengerutkan kening, “Lebih baik dari apa yang kami miliki.”

Dia menatapku, dan menggelengkan kepalanya saat dia berdiri, menjulang di atasku.

“Bisa berdiri?” Dia bertanya.

Aku mengangguk, dan mendorong pohon di belakangku. Begitu aku berdiri, aku menyadari betapa goyahnya kakiku. Apakah aku benar-benar kehilangan banyak darah?

Dia melirik ransel dan membuangnya. Kemudian dia mengambil langkah ke arahku. Sebelum aku menyadari apa yang dia lakukan, dia mengangkatku seperti anak kecil. Menempatkanku di pinggulnya.

“Hei!” Aku berteriak.

Aku berniat memukulnya, tetapi kemudian mengurungkan niat.

“Jika kamu berjalan sendiri, kita tidak akan kembali sampai fajar, dan lengan itu perlu dirawat,” dengusnya.

Aku menghela napas. Dia tidak salah, tapi ke mana dia membawaku, dan yang lebih penting, apa yang akan terjadi ketika aku sampai di sana?

Aku meletakkan tanganku di bahunya. Apakah itu imajinasiku, atau kulitnya terasa panas?

Dia menyeringai.

“Suhu tubuh kami secara alami lebih tinggi dari kalian. Kurasa pemimpin manusiamu tidak memberitahumu tentang hal ini, Nak?”

Aku menggelengkan kepalaku, “Mereka tidak banyak memberi tahu kami tentang kalian, kecuali bahwa kalian adalah monster.”

Dia memelototiku. Sial, aku seharusnya tidak mengatakan itu. Dia mungkin bisa mematahkanku menjadi dua, dan lagi pula aku adalah musuhnya.

Rautnya sedikit melunak.

“Jangan khawatir, kami tidak menyakiti anak kecil, itu bukan sifat kami. Pikir ulang siapa yang monster,” cacinya.

Aku menurunkan mataku.

“Maaf,” gumamku.

Dia benar. Aku baru saja ditembak oleh kaumku sendiri, dan diselamatkan oleh musuh. Setidaknya untuk saat ini.

Dia tersenyum, lalu dengan lembut dia menyingkirkan sehelai rambut dari wajahku.

“Siapa namamu, Nak?”

“E…Ellie,” aku tergagap.

“Yah, Ellie kecil, pegangan erat-erat, dan tutup matamu. Aku akan lari dan kamu mungkin sedikit mual jika tetap membuka mata.

“Jangan sampai kau muntah di punggungku.”

Aku meletakkan tanganku di bahunya, dan aku merasakan tangannya di punggungku, menahanku di tempat.

Aku melakukan apa yang dia sarankan dan memejamkan mata. Entah apa yang akan dia lakukan jika aku memuntahinya.

Aku tidak yakin seberapa cepat dia berlari, tapi aku bisa merasakan angin menerpa rambutku. Juga terasa seperti napas telah dikeluarkan dari tubuhku.

Baru berlari sekitar sepuluh menit, dia berhenti.

Aku mendengarnya tertawa.

“Kamu bisa membuka matamu sekarang, Nak.”

Perlahan aku membuka mataku. Ketika aku membuka mata, aku terengah-engah.

Kami tidak berada di dekat tempat kami sebelumnya. Aku melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda perbatasan. Sebaliknya sebuah rumah besar menjulang di depanku.

Rumah itu sangat besar, sekitar tiga lantai. Ada bangunan lain yang lebih kecil tersebar di sekitarnya, tetapi tidak ada orang, atau manusia serigala. Kemudian aku menyadari bahwa ini sudah tengah malam.

Saat aku melihat wajahnya, matanya berkilat hitam. Warna matanya yang normal berbeda. Aku terkesiap, dan tegang. Apakah dia sekarang akan berubah menjadi semacam monster?

Aku pucat pasi, dan jantungku serasa mau copot.

Beberapa saat kemudian matanya kembali normal.

Dia pasti menyadari apa yang terjadi, karena dia dengan lembut mengusap punggungku.

“Tidak apa-apa, Nak, jangan panik.”

Aku menggigit bibir bawahku.

“Ma…Matamu…” Aku tergagap.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?