logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Perawat Riley telah ditugaskan ke salah satu pasien paling terkenal di bangsal jiwa—Jackson Wolfe. Dia kebetulan sangat seksi, dan ironisnya membuat semua orang di sekitarnya mati. Saat Jackson memikat Riley dengan pesonanya, dapatkah Riley mengetahui siapa pembunuhnya… atau apakah pembunuhnya adalah pria yang telah membuatnya jatuh cinta?

 

Jack, Si Gila – Kashmira Kamat

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

Ringkasan

Perawat Riley telah ditugaskan ke salah satu pasien paling terkenal di bangsal jiwa—Jackson Wolfe. Dia kebetulan sangat seksi, dan ironisnya membuat semua orang di sekitarnya mati. Saat Jackson memikat Riley dengan pesonanya, dapatkah Riley mengetahui siapa pembunuhnya… atau apakah pembunuhnya adalah pria yang telah membuatnya jatuh cinta?

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Kashmira Kamat

Maddy
Bangun!
Maddy
Aku tahu kau masih tidur, bangun!
Riley
serius maddy? ini pukul 3
Maddy
Kau harus tepat waktu hari ini
Maddy
Aaron akan menawarkanmu promosi. Merawat pasien berprofil tinggi.
Riley
APA?!
Riley
Itu luar biasa!!!
Maddy
Sejujurnya…aku tidak begitu yakin.
Riley
tunggu, kenapa tidak?
Riley
kau tahu aku butuh uang…
Maddy
Nah, pasiennya adalah…
Maddy
Salah satu kasus “khusus” kita.
Riley
maksudnya?
Maddy
Si psikopat sejati.
Maddy
Aku tahu ini cocok untukmu, tetapi kau harus mempertimbangkan keputusan ini dengan SANGAT hati-hati.
Maddy
Maksudku, lihat saja apa yang terjadi kepada Roxanne…
Maddy
Sial, Aaron melihatku pegang ponsel. sudah dulu
Riley
apa yang kau bicarakan?
Riley
maddy?
Riley
apa yang terjadi dengan roxanne??

Aku mengembalikan ponselku kembali ke bawah bantal, lalu mengerang frustrasi.

Dasar ratu drama, Maddy. Tidak mungkin aku bisa kembali tidur sekarang.

Aku bangkit dari tempat tidur lalu menyeret diriku ke kamar mandi. Lampu-lampu kuno berkelap-kelip hidup, memberiku pemandangan yang sangat mengerikan di cermin.

Aku terlihat berantakan.

Mata biruku sangat berkantung. Rambutku yang berwarna lavender gelap juga berantakan.

Bisa diperbaiki dengan sedikit riasan dan sisir rambut.

Tentu, perawat dengan rambut ungu bukanlah hal yang paling konvensional, tapi Aaron tidak keberatan. Para pasien juga menyukai warna cerah.

Aku mencuci muka dan bersiap-siap untuk bekerja, melakukan kegiatan dengan otomatis.

Hari baru demi sesuap nasi lagi—ADUH!

Aku melompat-lompat dengan satu kaki, meringis kesakitan saat membungkuk untuk mengambil benda yang membuat jari kakiku terantuk.

Ternyata salah satu buku favoritku: sampulnya sudah usang, sobek, dan rusak karena ujung halamannya banyak terlipat.

Orang Asing Di Sampingku.

Ted Bundy mencoba membunuhku dari kuburnya.

Aku meletakkan buku itu di rakku, menempatkan Ted Bundy kembali ke tempatnya di antara Jack the Ripper dan Pedro Lopez.

Mungkin Maddy benar, pasien psikopat cocok denganku…

Mereka seperti hobi bagiku…

Beberapa mungkin menyebutnya sebagai obsesi.

Aku mencari makanan di dapurku, memasukkan strudel dingin ke dalam mulutku.

Peringatan Maddy masih segar di pikiranku.

Lihat saja apa yang terjadi kepada Roxanne…

Aku mengambil kunci, menuju pintu apartemen kecilku, dan merasa sedikit gelisah.

Siapa sebenarnya pasien berprofil tinggi ini?

***

Promosi.

Aku menunggu di luar kantor Dr. Shaw, perasaan gugup beterbangan di perutku. Biasanya, gagasan menerima promosi akan membuatku bersemangat.

Namun, segalanya menjadi sedikit lebih rumit ketika kau bekerja di bangsal jiwa untuk penjahat yang gila.

Terutama karena Roxanne tampaknya mengambil cuti secara misterius.

Lalu, aku penggantinya…

“Silakan masuk, Riley,” seru Dr. Shaw.

Aku berjalan masuk, mengikuti aroma menggoda dari kukis buatan sendiri ke kantornya.

Dr. Aaron Shaw duduk di belakang mejanya dengan senyum cerah di wajahnya dan sepiring kukis cokelat di depannya.

“Kau mau? Spesialisasi nenekku.”

Aku menatapnya ragu.

Jadi, kita langsung pakai sogokan, benar begitu?

Aku mengambil dua kukis, lalu memasukkan satu ke dalam mulutku. Cokelatnya manis dan lengket meleleh di lidahku.

Aaron memperhatikanku mengunyah dengan senyumnya yang bersinar, terlihat jauh lebih muda dari seharusnya, sekitar akhir 30-an.

Kau tidak jauh lebih muda, Riley…

Aku menggelengkan kepalaku, mencoba untuk fokus pada situasi yang ada.

Dua puluh sembilan masih muda, pikirku. Aku adalah gambaran masa muda.

“Jadi,” aku memulai setelah memakan kukis keduaku. “Promosi…?”

“Itu benar,” katanya. “Kau akan mendapatkan bonus tambahan di setiap akhir bulan, lembur, dan semua tunjanganmu akan ditanggung.”

Mulutku ternganga kaget. Aku hampir tidak percaya. Uang ekstra pasti akan sangat membantu.

Terutama mengingat situasiku di rumah…

Namun, tidak ada yang datang secara gratis.

“Apa tetapinya?” Aku bertanya.

Aaron tertawa. “Ayolah, Riley. Kau tidak perlu terlalu curiga.”

Aku mengambil kukis cokelat chip yang masih hangat, sambil mengangkat alis.

Aaron mengangkat tangannya dengan gerakan baiklah, aku mengaku. Dia selalu salah satu dokter yang santai dan menyenangkan. Dia memperhatikanku, dan aku menganggapnya lebih sebagai teman daripada bos.

Senyum menghilang dari wajahnya, saat dia mencondongkan tubuh ke depan, semua menjadi seriuss. “Beban kerjamu akan berkurang secara signifikan. Kau hanya akan merawat satu pasien. Namun, dia punya sedikit… reputasi.”

Aku merasakan hawa dingin turun ke tulang punggungku.

“Dan pasien itu adalah…?”

“Jackson Wolfe.”

Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat di mana aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dia mungkin salah satu pasien paling terkenal yang kami miliki di rumah sakit ini.

“Lalu, apa yang terjadi kepada Roxanne? Aku menggantikannya, kan?” Aku ingat perawat yang cerdas dan energik itu. Dia baru saja berhenti bekerja setelah satu hari.

“Dia mengambil cuti karena alasan pribadi,” kata Aaron samar.

Ada sesuatu yang tak beres.

Peringatan Maddy terlintas di benakku.

Namun, anehnya…ini justru membuatku semakin menginginkannya. Rasanya seperti sebuah tantangan.

Lagi pula, aku bohong kalau bilang aku tidak penasaran…

“Baiklah,” jawabku, kata-kataku bergema dengan finalitas yang tidak menyenangkan. “Aku akan melakukannya.”

“Baiklah.” Aaron bertepuk tangan. “Dr. Bennet akan memberitahumu tentang profil Jackson.”

“Dr. Bennet?”

“Asisten baruku. Baru lulus dari sekolah kedokteran.”

“Ah, jadi pesuruh barumu?”

Aaron tertawa. “Kau yang mengatakannya, bukan aku.”

Aku bangun, mengambil satu kukis terakhir sambil jalan. Aku sudah setengah jalan keluar dari pintu ketika Aaron memanggilku.

“Riley,” katanya, dengan ekspresi serius di wajahnya.

“Ya?”

“Semoga beruntung.”

***

Selama mencari kantor Dr. Bennet, aku melihat seorang penjaga keamanan yang tertidur di posnya. Aku berjingkat ke arahnya, lengan ke atas dan siap untuk menerkam.

“AHH!” teriakku sambil menggoyangkan bahunya.

“AGHH!” dia balas berteriak, matanya terbuka lebar.

Dia menatapku kesal.

“Kau akan merusak reputasiku, Ken,” godaku. “Aku membantumu dapat pekerjaan di sini, tetapi fakta bahwa aku kakakmu tidak akan bisa mencegahmu dipecat.”

“Aku tidak tidur, hanya mengistirahatkan mataku.” Ken menampar wajahnya beberapa kali.

Aku meremas bahunya dengan simpati. Bebannya memang berat, belajar di sekolah kedokteran hewan dan bekerja sambilan sebagai penjaga keamanan.

“Aku mengambil promosi yang ditawarkan Aaron kepadaku, jadi mungkin kau bisa mengurangi sedikit sif kerjamu,” kataku.

Ken hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung semua beban.” Dia menatapku tajam, ada kerutan di wajahnya. “Apa kau yakin tentang ini? Aku mendengar bangsal jiwa adalah pekerjaan yang sulit.”

“Kita butuh uang,” kataku singkat.

“Aku selalu bisa mengambil lebih banyak sif—”

“Tidak mungkin.” Aku melihat kantung-kantung berat di bawah mata adikku, kulitnya yang pucat. Dia tampak benar-benar lesu. “Kau akan berakhir menjadi pasien di sini, alih-alih penjaga keamanan.”

“Kau meremehkan kekuatanku,” gumamnya, sambil meniru karakter fiksi ilmiah dengan buruk.

“Jangan coba-coba,” jawabku otomatis, sambil memutar mataku. Aku memukul bahunya.

Sejak Ibu dan Ayah meninggal, kami hanya berdua.

Aku masih ingat malam itu ketika aku membuka pintu dan menemukan seorang petugas polisi di sisi lain dengan kilatan lampu merah dan biru di belakangnya. Kecelakaan mobil, katanya kepadaku.

Sejak itu, kami berpindah-pindah dari satu apartemen murah ke apartemen murah lainnya, nyaris tidak bertahan dan terlilit utang.

Namun, kami akan mengatasinya. Kami selalu melakukannya.

“Jangan tidur lagi!” Aku memanggilnya saat berjalan pergi.

“Beri tahu seluruh rumah sakit, kenapa tidak?” balasnya.

Aku berbelok di tikungan, senyum di wajahku.

Sekarang waktunya menemukan Dr. Bennet…

***

Setelah beberapa menit berkeliaran, akhirnya aku menemukan kantornya. Aku mengetuk sekali dan membuka pintu. “Dr. Bennet?” tanyaku.

Pria di dalam berbalik menghadapku; dia sedang mengobrak-abrik beberapa file.

Aku berhenti, dan berkedip beberapa kali.

Dia sungguh…

Keren.

“Panggil aku Paul.” Dia tersenyum, memamerkan deretan gigi putih sempurna. “Kau?”

Butuh beberapa detik untuk menemukan suaraku. “Riley Frazier,” kataku. “Aku menggantikan Perawat Roxanne?”

“Ah, jadi kau perawat baru Jackson,” katanya. “Silakan duduk. Aku akan mengambil kontrak barumu.”

Aku duduk di seberangnya, mencoba—dan gagal—untuk tidak menatapnya.

Bahkan saat duduk, aku tahu dia tinggi. Mudah lebih dari 182 cm. Dia memiliki rambut hitam bergelombang dan rahang tajam yang bisa menembus kaca.

Bahkan melalui jas dokternya, aku bisa melihat otot-ototnya yang tegas.

Aku tiba-tiba tersadar diri. Aku mencoba menghaluskan seragamku dan menyisir rambutku ke belakang telinga.

Jika Aaron memberitahuku residen medis barunya adalah supermodel, setidaknya aku akan memastikan penampilanku rapi.

“Ah, ini dia.” Paul menyodorkan kertas-kertas itu ke arahku. “Bacalah dengan saksama. Kau tidak ingin menandatangani sesuatu yang kau belum siap.”

Aku tertawa.

Apakah itu seharusnya lelucon?

Aku memindai kontrak. Isinya seperti biasa—tidak ada yang luar biasa. Aku menulis tanda tanganku dengan percaya diri. Aku sudah membuat keputusan bahkan sebelum aku melangkah ke dalam ruangan.

Selain itu, jika aku bekerja dengan Dr. Bennet sepanjang waktu, aku pasti tidak akan mengeluh…

Dia bangkit dan memberiku satu set kunci.

“Kau akan menemukan kamar Jackson di ujung lorong, di sebelah kananmu,” katanya. “Kamar 606.”

“Kau tidak akan ikut denganku?” tanyaku, berusaha menyembunyikan kekecewaanku.

Paul menatapku dan tersenyum, jantungku berdetak kencang.

“Meski aku mau, masih banyak hal lain yang harus diurus. Jangan khawatir. Kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk saling mengenal.”

“Bagaimana kalau minum kopi besok?” Aku bertanya dengan berani. Saat itu abad ke-21. Sangat wajar bagi wanita untuk mengajak pria berkencan.

“Kau yang traktir?” dia bertanya sambil tersenyum.

Aku mengambil sticky note dari mejanya dan menuliskan nomorku. Aku mengulurkannya untuknya, tetapi alih-alih mengambil catatan itu, dia justru meraih pergelangan tanganku dan menarikku lebih dekat.

Aku terkesiap saat dia menahanku di dadanya, lengannya yang kuat melingkari pinggangku.

Jantungku berdebar kencang, lubang hidungku dipenuhi aroma jantannya.

Asap kayu dan pinus…

“Apakah itu violet yang kulihat di rambutmu?” tanyanya.

“Aku—Ini lavender yang gelap, ya,” aku tergagap.

Dia mencondongkan tubuh agar aku bisa merasakan napasnya di telingaku. Getaran kenikmatan mengalir di tulang punggungku.

Aku seharusnya tidak membiarkan dia melakukan ini…

Dia secara teknis BOS-ku.

“Ini mengingatkan aku akan permen kapas yang aku makan di karnaval,” gumamnya. “Itu lezat.

Aku mengencangkan pahaku saat gelombang nafsu menyerbuku. Tangannya yang besar dan kuat menjelajahi pinggangku, menuju pantatku…

Astaga, apakah kami benar-benar akan—

Namun, kemudian dia menarik diri, panas tubuhnya di tubuhku menghilang.

“Yah, panggilan tugas,” goda Paul. Dia berbalik, berjalan cepat keluar pintu. “Berhati-hatilah dengan Jackson. Dia lumayan merepotkan.”

Aku mengguncang diriku dari kebodohanku, menggigit bibirku. Aku merasa bahwa aku mungkin menikmati posisi baruku lebih dari yang aku kira…

Aku mengumpulkan suaraku, menanggapi komentar Paul walau sangat terlambat.

“Aku akan bisa menanganinya,” kataku kepada diri sendiri.

Setidaknya, aku harap aku bisa…

***

606.

Siapa yang mengira bahwa angka bisa begitu menakutkan.

Jantungku berdegup kencang di dadaku saat aku memasukkan kunci ke lubangnya.

Mengambil napas dalam-dalam, aku membuka pintu dan berjalan masuk.

Aku menemukan Jackson dikekang di tempat tidurnya dengan tali kulit dan topeng bergaya Hannibal Lector menutupi mulutnya. Dia meronta-ronta melawan pengekangannya ketika dia melihat aku masuk, matanya melebar dan putus asa.

Dia mencoba meneriakkan sesuatu kepadaku, tetapi topeng itu mengaburkan kata-katanya.

“Tenang, Jackson,” kataku dengan tenang. “Namaku Riley, dan aku akan menjadi perawat barumu.”

Dia mengabaikanku, berusaha keras melawan kulitnya. Jika ini terus berlanjut, dia akan melukai dirinya sendiri. Air liur keluar dari sudut topengnya, dan aku merasa kasihan.

Mungkin ini yang dibicarakan semua orang ketika mereka mengatakan Jackson itu cukup merepotkan

“Kau harus tenang, Jackson,” kataku tegas. “Jika kau tenang, aku akan melepas topengmu sehingga kau dapat berbicara tanpa mencoba berteriak. Oke?”

Jackson menyipitkan matanya dan terdiam, mengangguk pelan. Dia memiliki rambut pirang kotor dan bintik-bintik tersebar di wajahnya.

Aku mendekatinya dan dengan hati-hati membuka kancing mulutnya; dia mulai berteriak segera setelah dibuka.

“KELUARKAN AKU DARI IKATAN INI!” dia berteriak. “AKU BUKAN JACKSON WOLFE!”

Aku terdiam. Psikosisnya lebih buruk dari yang kukira.

“Jackson…”

“Dengarkan aku,” gerutunya. “Namaku Dr. Paul Bennet. Kau bilang namamu Riley? Kau seharusnya menjadi asisten baruku.”

“Apa yang kau bicarakan?” Kepalaku berputar. “Aku baru saja berbicara dengan Dr. Bennet…”

“KAU MELIHAT DIA? DAN KAU MEMBIARKAN DIA PERGI?” Dia meledak penuh amarah. “Periksa file pasien, Bodoh. Itu seharusnya menjadi hal pertama yang kau lakukan ketika kau masuk.”

“Yah, aku mau melakukannya, tetapi kau mulai berteriak gila—”

“SEKARANG!” Jackson-bukan-Jackson menuntut.

Aku meraih file di pintu, membukanya. Ada foto Jackson Wolfe. Dia memiliki rambut bergelombang dan rahang tajam yang bisa menembus kaca…

Darah mengalir dari wajahku.

Itu bukan Dr. Bennet yang kuajak bicara…

Itu adalah Jackson Wolfe.

Dan aku baru saja membuat janji kencan dengannya sebelum melihat dia berjalan pergi keluar dari rumah sakit.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

Riley
hei
Riley
mencoba meneleponmu, tapi langsung ke pesan suara
Riley
kau mungkin sudah mendengar tentang apa yang terjadi…
Riley
apakah semuanya baik-baik saja?
Riley
bennet marah kepadaku
Aaron
Aku sibuk.
Aaron
Berurusan dengan kekacauan ini.
Aaron
Bicara nanti.

Aku menatap pesan di layar ponselku dengan sedih.

Aaron sangat marah. Aku tahu dari singkatnya pesan-pesannya dan bagaimana dia mengakhiri teksnya dengan titik.

Seseorang hanya melakukan itu ketika kecewa.

Dan omong-omong dokter yang marah…

“Seberapa tidak kompetennya kau?” Dr Bennet marah saat dia mondar-mandir di kantornya.

Aku sudah berusaha mengabaikan omelan marahnya, tapi itu mulai menggangguku.

“Entah kenapa Aaron berpikir untuk mempromosikan kau. Bagaimana kau bahkan mendapatkan kualifikasi?”

Baiklah, sudah cukup.

“Diam, ya? Ini salahmu, sama seperti ini salahku.” Aku tidak peduli bahwa dia adalah bosku. Ini masalah rasa hormat dasar manusia.

“Dia tepat di depanmu dan kau biarkan dia keluar dari sini seolah dia pemilik tempat ini.” Wajah Bennet memerah karena marah.

“Kau sendiri terikat,” balasku. “Orang bodoh macam apa yang diikat oleh pasien sendiri?”

“Bagaimana kau bahkan tidak tahu seperti apa rupa Wolfe sebelum menerima pekerjaan ini?”

“Dengar, bajingan,” kataku. “Aku mengambil tugas itu secara harfiah 20 menit sebelum menemukan kau diikat ke tempat tidur, jadi beri aku sedikit kelonggaran.”

“Kau harus dipecat karena ini,” semburnya.

“Sebaiknya tidak,” ancamku. “Karena jika ya, aku akan memastikan kau ikut dijatuhkan bersamaku.”

Kami saling menatap, tak satupun dari kami mundur. Dengan gusar, Bennet bergegas keluar dari kantor, memberi aku satu tatapan terakhir.

Aku menghela napas, tenggelam lebih jauh ke tempat dudukku. Itu bos baruku. Dan pasien baruku adalah seorang psikopat berbahaya yang berkeliaran bebas…

Aku memejamkan mata, berharap ada tombol reset merah besar yang bisa kutekan.

Awal yang bagus, Riley.

***

“Kau beruntung,” kata Ken dengan seteguk lasagna.

Aku berhenti untuk menatapnya, potongan pasta keju di garpuku jatuh kembali ke piringku. Obrolan TV berdengung di latar belakang apartemen kecil kami, memecah kesunyian.

“Dan bagian tepat mana dari ceritaku yang memberi kesan bahwa aku beruntung?” tanyaku.

Aku telah memberi Ken inti dari apa yang telah terjadi: mulai dari bertemu Dr. Bennet, hingga bertemu dengan Dr. Bennet asli dan mengetahui bahwa aku baru saja membiarkan orang berbahaya lepas ke dunia.

Aku mungkin kehilangan pekerjaanku.

Dan aku tidak bisa dipecat…

“Dia tidak menyakitimu,” kata Ken. “Aku tidak tahu apakah kau mengerti, Kak, tetapi kau sendirian di kamar dengan pasien yang tidak stabil secara mental. Segalanya bisa dengan mudah menjadi lebih buruk.”

Aku mengerutkan kening.

Aku tidak memikirkannya seperti itu. Faktanya, tidak ada satu momen pun di mana aku merasa takut atau tidak nyaman ketika bersama Jackson Wolfe.

Faktanya, aku merasakan sesuatu yang lain sama sekali…

Namun, menurut arsipnya—yang aku baca jauh terlambat—dia adalah seorang psikopat. Dan psikopat pandai memanipulasi orang lain.

“Omong-omong, cukup tentang hariku,” kataku, tidak terlalu halus mengubah topik pembicaraan. Aku tidak ingin memikirkan diriku dekat dengan bahaya. “Bagaimana kabarmu, Dr. Dolittle?”

Ken menghela napas berat, menatap lapisan keju yang tak pernah habis di lasagnanya. “Tidak banyak yang bisa diceritakan. Hari yang panjang dan sif yang lebih lama.”

“Ken…”

Dia menghabiskan sisa makanannya dan bangkit untuk mencuci piringnya.

Rasanya seperti seseorang telah mengambil pisau dan menusukkannya ke jantungku. Punggung adikku membungkuk saat spons bergerak lamban di sepanjang piringnya.

Ken selalu ingin menjadi dokter hewan. Sejak anjing masa kecil kami mati, itu adalah mimpinya, membantu teman-teman kecil kami yang berbulu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Namun, melihat dia sekarang…

Dia tampak begitu tersiksa.

Segalanya menjadi sulit sejak orang tua kami meninggal dalam kecelakaan mobil tak terduga itu. Ada utang yang harus dilunasi, dan sekolah kedokteran hewan sama sekali tidak murah. Stres mulai melanda kami berdua.

Kami selalu berusaha untuk menghibur dan ada untuk satu sama lain, tetapi akhir-akhir ini, sepertinya Ken menghindariku.

“Ken, jika ada sesuatu yang mengganggumu—”

“Tidak ada masalah, Riles. Aku hanya lelah.” Dia berbalik menghadapku, senyum setipis kertas di bibirnya. “Aku akan tidur.” Dia balik ke kamarnya, dengan lembut menutup pintu di belakangnya.

Aku menguap, rasa lelah tiba-tiba menguasaiku. Aku segera membersihkan dapur dan hendak mematikan TV ketika berita itu menarik perhatianku.

“Melissa Stratton yang berusia 49 tahun telah dilaporkan hilang,” pembawa berita itu mengumumkan. Foto seorang wanita paruh baya yang tersenyum ditampilkan di layar. “Jika Anda memiliki informasi, jangan ragu untuk menghubungi penegak hukum setempat.”

Aku mematikan TV dan menyeret kakiku ke kamar tidurku.

Aku gelisah.

Senyum pembunuh Jackson terus melintas di benakku.

Tidak mungkin dia ada hubungan dengan kehilangan ini…

Benar?

***

“Kalian berdua tidak akan kehilangan pekerjaan,” kata Aaron.

Aku menghela napas lega.

Bennet tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tutup mulut.

Kami berdua duduk di seberang Aaron di kantornya. Tidak ada kukis yang baru dipanggang di mejanya kali ini, dan sikap ramahnya yang biasa hilang.

“Untuk saat ini, kalian berdua akan ditugaskan ke pasien yang berbeda sampai Jackson ditangkap kembali.” Dia melihat aku. “Riley, kau ditugaskan ke Dave Anderson.”

Bennet mendengus di sampingku, dan aku melemparkan pandangan ke samping.

Dave Anderson, juga dikenal sebagai Dave Gila karena kasus bermasalah oleh staf rumah sakit yang lebih…antusias.

Aaron mengalihkan pandangannya ke Bennet, tidak senang.

Kau, Paul, akan membayangiku. Aku akan terus mengawasimu untuk memastikan kau mengikuti protokol keamanan standar.”

Bennet menyusut ke kursinya, dan aku merasakan gelora dendam menjalari diriku.

“Ini mengkhawatirkan bahwa Jackson mampu menaklukkanmu,” lanjut Aaron. “Tidak peduli betapa liciknya dia, tidak ada alasan kau seharusnya berada dalam situasi itu.”

Bennet membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi Aaron mengangkat tangannya.

“Aku tidak ingin mendengarnya. Kita tinggalkan insiden ini.” Aaron mencubit pangkal hidungnya, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya. “Sekarang, kecuali kalian berdua memiliki pertanyaan…?”

Bennet dan aku saling berpandangan, tak satu pun dari kami ingin bicara.

“Bagus. Kalau begitu, mari kita lanjutkan dan—”

“Dr. Shaw!”

Kami berbalik untuk menemukan resepsionisnya di pintu, terengah-engah. Dia tampak letih, tata riasnya yang biasanya tanpa cela terlihat berantakan.

“Apa lagi sekarang?” Aaron mengerang, berdiri.

“Ini tentang Jackson,” katanya. “Mereka menangkapnya.”

***

Pintu masuk rumah sakit penuh sesak dengan staf, media, dan orang-orang yang penasaran. Aku berjinjit, menjulurkan leherku untuk mencoba melihat dari balik kerumunan.

“Apakah kau mendengar?” sebuah suara di sebelah kiriku berkata. Aku menoleh untuk melihat dua perawat UGD saling berbisik. “Rupanya dia membunuh seseorang.”

Aku kaget. Aku mendekati mereka dan mencoba mendengar yang mereka katakan.

“Mereka menemukan wanita yang hilang. Yah, setidaknya apa yang tersisa darinya.” Perawat ini benar-benar mempermainkan cerita, menceritakan kembali seolah-olah wanita malang ini adalah korban dari film horor, bukan manusia sungguhan.

Itu membuatku mual.

“Apa maksudmu apa yang tersisa?” yang lain bertanya.

“Anggota tubuhnya dipotong semua. Mereka menemukan potongan-potongan tubuhnya di mana-mana—bekas gigitan di sekujur tubuhnya.”

“Astaga,” perawat lain bergumam pelan.

“Bagaimana kau tahu Jackson yang melakukannya?” aku menyela.

Mereka berdua menatapku, terkejut.

“Dia ditemukan di dekat sini,” katanya. “Selain itu… Jackson punya sejarah.”

Sejarah?

Sebelum aku sempat bertanya, gerakan tiba-tiba meledak di pintu masuk. Teriakan mengiringi kamera cepat dari para jurnalis yang bersemangat.

Jackson dikawal melewati rumah sakit, diikat erat ke kursi roda. Para penonton yang penasaran membuka jalan untuknya, dan akhirnya jalannya melewati tempat aku berdiri.

Kami mengunci mata: bola-bola cokelat tua itu menempel di mataku. Dia tampak berbeda dari saat terakhir kali aku melihatnya. Dia tidak terlihat ramah seperti saat mengenakan jas dokter.

Dia tampak berbahaya. Liar.

Dia mengenakan celana jin kotor dan kaus oblong putih robek, cipratan darah menodai kain.

Darah dari wanita yang hilang?

Apakah aku secara tidak sengaja bertanggung jawab atas kematian orang asing?

“Oh, halo, Permen Kapas,” katanya santai saat dia didorong melewatiku.

Tanganku secara naluriah bergerak untuk menyentuh rambut unguku. “Jangan panggil aku seperti itu,” kataku.

Panas menjalari tulang punggungku saat dia mengedipkan mata kepadaku.

Jackson menyeringai, daya tarik seks membara dalam tatapannya. “Kita mungkin harus menunda kencan kita.”

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?