logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

 

Buas – Kristen Mullings

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

Peringatan Pembaca

Ini adalah cerita yang sangat dewasa ♨️️ dan Episode 1 dimulai dengan audio dewasa juga !

Anda disarankan mendengarkan dengan headphone, atau di tempat pribadi

Sage

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain.

Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah.

Membutuhkannya.

Di sini.

Saat ini.

Akhirnya, batangnya yang sudah mengeras perlahan masuk ke dalam kewanitaanku yang basah. Aku tenggelam dalam kenikmatan yang mengalir di dalam diriku. Dia menikmatiku dengan perlahan, mendorong inci demi inci hingga aku berada di tepi. Sebelum akhirnya dia mulai penetrasi dengan kecepatan yang tetap.

Jari-jari kakiku meringkuk, dan aku mencengkeram tepi meja untuk menahan sensasi yang tak tergambarkan ini. Aku mengembuskan napas tak teratur, tersiksa dalam kenikmatan.

Badanku melengkung ke belakang, mendesah, begitu menikmati semua momen ini, sehingga aku tidak menyadari bahwa aku terpeleset, terguling dari meja, hingga aku terjatuh di tanah dengan bunyi gedebuk yang menyakitkan. Dan aku berkedip.

Aku masih mengenakan baju. Aku tidak berada di kantornya, dan aku juga tidak sedang bercinta. Tidak.

Aku berada di lantai bilik kerjaku.

“Sage! Bangun!”

Aku berbaring di sana, di depan Ronnie, teman satu bilikku, ketua tim, dan juga sahabatku. Dia bersandar di kursinya dan mentertawakanku.

Aku juga ikut tertawa. Konyol sekali, memikirkan bagaimana aku bisa tertidur di tempat kerja, hingga memimpikan bosku sendiri? Rasa merinding merayapi kulitku saat aku bergidik memikirkan kembali mimpi itu…

Itu semua terasa begitu nyata.

Aku menghela napas, perlahan berdiri, dan membersihkan diri dari debu.

“Kau tahu kita ada rapat pukul lima, kan?” tanya Ronnie. “Jika kau tidak cukup tidur tadi malam, mungkin kau tidak harus—”

“Aku baik-baik saja.”

Tidak ada yang akan menghentikanku untuk hadir dalam pertemuan itu. Untuk berada di dekatnya. Si Bos.

Tn. Heinrich.

Setelah mengumpulkan catatan, kami pergi menuju lift. Aku berkaca dengan seksama di dindingnya yang reflektif, merapikan rambut hitamku yang panjang ke belakang telinga, meluruskan blus berwarna baby-pink milikku, sekaligus membuka kancing keduanya untuk memperlihatkan sedikit belahan dadaku.

Seandainya saja aku punya lebih banyak untuk diperlihatkan.

“Kau melakukannya lagi, kan?” tanya Ronnie saat kami melangkah ke dalam lift. “Berfantasi tentang bos…”

“Tidak, aku tidak melakukannya.”

Aku melakukannya.

Ronnie menekan tombol berhenti yang berwarna merah di lift dan memberiku perhatian penuh.

“Sage. Aku tidak mengajakmu ke pertemuan ini karena kau adalah sahabatku. Aku membawamu karena aku tahu kau memiliki lebih banyak bakat daripada yang dimiliki desainer-desainer lain.”

“Ya, aku memang berbeda dengan yang lain.”

“Itu baru jagoanku!” Ronnie berkata dengan kilatan di matanya.

Ronnie mengaktifkan kembali lift.

“Jika kita berhasil menyelesaikan ini dengan baik,” lanjut Ronnie, “Akan ada sekotak nugget ayam dengan namamu di atasnya sebagai hadiah.”

Aku tersenyum. Dia tahu betul bahwa aku adalah salah satu dari sedikit orang di planet ini yang tidak suka chicken nugget.

“Kau nugget ayam,” aku menegaskan.

“Tidak, kau yang nugget ayam!” dia menembak balik.

Ronnie selalu tahu cara membuatku bersemangat dan mengembalikan fokusku pada tempatnya.

Pintu lift terbuka, dan itu dia. Bos kami.

Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam arang, terlihat pas memeluk setiap inci ototnya yang menonjol. Tangannya masuk ke dalam saku, mengencangkan kain di sekitar kejantanannya dengan rapi.

Dan rambutnya… yah, tidak ada rambut. Dia sudah memotongnya! Dia sudah memotong rambut cokelatnya yang indah!

Aku menyukai tampilan barunya. Benar-benar terlihat cocok untuknya, tampilannya ini membuat struktur tulangnya yang simetris terlihat dengan lebih baik. Dia benar-benar macho, dengan rahang persegi dan mata berbentuk almond. Bibirnya pun penuh dan rata.

Aku benar-benar terpukau dan tergila-gila, sangat terpikat dengan bosku sendiri.

Namun, siapa yang tidak?

Dia adalah dewa Yunani, dan aku menyukainya.

Sebelum aku bisa menahan diri, kata itu keluar dari bibirku. “Sialan…”

Sebuah siku mengenai tulang rusukku. Ronnie menatapku tak percaya. Aku baru saja mengatakan sumpah serapah di depan bosku!

Sial!

Pipiku memerah dan telapak tanganku mulai berkeringat saat dia mengangkat alis bertanya ke arahku. Sedikit senyuman tersungging di bibirnya.

Namun, menghilang dalam sekejap.

“Nona Beauchamp, Nona Sauvignon,” katanya, kepada Ronnie dan aku berurutan.

Mendengar suaranya yang dalam dan mesum, aku merasakan bagian sensitif tubuhku mulai basah. Begitu basah sehingga aku bertanya-tanya apakah stoking yang aku kenakan bisa menyerap semuanya.

Namun, yang lebih penting lagi, jika aku bisa bereaksi seperti ini terhadap suaranya saja, apa yang akan terjadi jika pria itu benar-benar menyentuhku?

Aku menarik napas dalam-dalam untuk mencoba mengusir pikiranku. Hal itu tak masuk akal. Bosku tidak mungkin tertarik denganku seperti itu. Tidak mungkin itu bisa terjadi.

Saat kami melangkah keluar dari lift, Tn. Heinrich menoleh ke arahku.

“Nona Sauvignon, aku ingin berbicara denganmu setelah pertemuan nanti.”

Perutku berdesir, tapi aku berhasil mengangguk.

“Ya, Pak.”

Kupersiapkan diri untuk hal yang terburuk.

***

Kami bekerja di salah satu perusahaan desain grafis terkemuka di negara ini. Ronnie sedang dalam perjalanan untuk menjadi salah satu karyawan Tn. Heinrich yang paling dihormati, dan hanya melihat dari presentasinya saja, aku sudah bisa mengerti alasannya.

Dia orang yang terorganisasi, teliti, dan analitis.

Sedangkan aku benar-benar berantakan. Namun, sangat ahli dengan hal-hal yang berhubungan dengan seni.

Tetap saja, melewati pertemuan tanpa akhir ini tidak pernah terasa mudah, dan aku akui, aku mungkin tertidur beberapa kali.

Kalau saja Ronnie tidak menyikutku di tulang rusuk—lagi-lagi—aku mungkin akan berakhir tertidur di genangan air liurku sendiri di meja konferensi.

Aku hanya mendengarkan Tn. Heinrich dengan penuh perhatian. Aku takut, dan selalu bertanya-tanya apa yang dia inginkan dariku setelah pertemuan ini. Takut… dan bersemangat sekaligus.

Ketika semua orang keluar dari ruangan, aku menemukan bos sudah menungguku dengan sabar, tangannya masuk ke dalam saku seperti biasa. Menonjolkan tonjolannya.

“Ikut denganku, Nona Sauvignon.”

Aku mengikutinya ke kantornya, mencium wanginya yang tertinggal. Mirip seperti wangi anggur tua yang dicampur dengan kolonye mahal.

Akhirnya kami memasuki kantornya yang didekorasi dengan indah, dan aku duduk di seberangnya.

Kalau bukan karena namanya dan pepatah umum, kau tidak akan pernah menduga bahwa Tn. Heinrich adalah orang Jerman.

Dia telah melakukan perjalanan ke seluruh dunia, seorang pria Renaisans yang bisa datang dari mana saja.

Dia mulai memeriksa beberapa dokumen, nyaris tidak menggubris kehadiranku, dan aku semakin tegang, bertanya-tanya tentang apa ini semua.

Kemudian mata biru esnya beralih ke mataku, dan dia bangkit dari kursinya.

“Nona Sauvignon, bisakah kau melangkah ke arah sana?”

Aku tidak mempertanyakannya. Aku berdiri dan berjalan ke tempat dia mengangguk, ke jendela, melihat keluar ke pusat kota Chicago, aku merasa seperti sedang dihipnotis.

Aku merasakan dia mendekat dari belakang saat aku melihat keluar.

“Apakah kau tahu mengapa kau ada di sini?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Bagus. Apakah benar jika aku berasumsi kau menganggap enteng pekerjaanmu ini?”

Mataku melebar. Aku mulai tergagap, dan dia memotongku sambil melihat bayanganku di jendela.

“Melihat perilaku keterlaluanmu sebelumnya, aku cenderung berpikir begitu. Belum lagi tertidur di tengah rapat. Apakah kau tidak mampu berperilaku secara profesional? Atau haruskah aku menyalahkan departemen HRD karena merekrut seseorang yang begitu tidak sopan, yang bermulut kotor dan bertindak bebas di perusahaanku ini?”

Sekarang, aku tidak bergairah lagi. Aku sangat marah.

Suhu di dalam ruangan ini berubah dari dingin menjadi panas yang menyengat.

“Apa penjelasanmu, Nona Sauvignon? Atau apakah kecabulan adalah satu-satunya bahasa yang kau mengerti?”

Sebelum sempat berpikir, sebelum bisa menahan diri, aku berbalik dan menampar wajah Tn. Heinrich.

Ya Tuhan!

Apa yang telah aku lakukan?

Aku baru saja menampar bosku.

Namun, yang mengejutkanku, Tn. Heinrich tidak mengusirku keluar dari ruangan dan menyuruhku untuk mengemasi semua barang-barangku.

Tidak, dia malah menyeringai. Dan melangkah maju. Memutarku dan menekanku ke kaca yang dingin.

Aku bisa merasakannya, porosnya keras menyentuh punggungku.

Apakah ini mimpiku?

Atau apakah ini benar-benar terjadi?

Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Ich werde dich zähmen, mein kätzchen.

Aku tidak tahu apa artinya, tapi kemudian aku merasakan giginya menggigit kecil telingaku. Aku bergidik saat dia menggoyangkan pinggulku pada kemaluannya yang terasa keras dan besar.

Dia berkedut. Aku memejamkan mata sejenak sebelum dia berseru, “Lihat aku, kätzchen!”

Dan aku menurut, melihatnya melalui kaca di depanku.

Menatap saat mata birunya melihatku dalam. Menyaksikan saat ujung jarinya menelusuri tubuhku. Dari putingku yang keras. Ke perutku. Ke—

Aku terkesiap saat dia akhirnya menyentuhku, mengeluskan jemarinya ke intiku yang basah.

Dia menggeser celana thong-ku yang sudah basah dengan jari-jarinya yang terampil, lalu memijatnya.

Aku hampir-hampir sampai di puncak.

Punggungku membungkuk, dan lututku sedikit goyah kehilangan tenaga, tapi dia dengan sigap menangkapku dengan tangan kanannya.

Terkikih pelan, dia terus menekan lembut inti kewanitaanku dengan jarinya, sementara ibu jarinya menggosok melingkar di sekitar klitorisku.

Dia berhenti menggodaku.

Kali ini, dia mencoba masuk lebih jauh.

Air mata memenuhi mataku, aku kehilangan kendali dan tersedak.

Akhirnya, aku sampai ke puncakku dengan tangisan nyaring.

Dia menarik tangannya dengan cepat dan melangkah mundur dariku dengan seringai jahat di wajahnya.

Aku bisa mati karena malu saat ini.

Aku dengan cepat merapikan rok dan rambutku, dan ketika aku berbalik menghadap bosku, dia sedang mengisap ujung jarinya satu per satu. Jari tengah dulu, lalu ibu jarinya.

“Manis sekali,” bisiknya. Wajahku terasa panas dan aku tahu saat ini wajahku juga sedang memerah cerah.

Aku tidak bisa berpikir jernih, apalagi memahami apa yang baru saja terjadi.

Namun, tidak ada di dunia ini yang bisa membuatku siap dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

Tn. Heinrich menurunkan tangannya, menatapku dengan tatapan dingin, dan mengangguk ke arah pintu.

“Kau dipecat.”

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

Ronnie
omg
Ronnie
apakah rumor itu benar?
Ronnie
apakah kau benar-benar…
Sage
Dipecat?
Sage
YAP.
Ronnie
Ronnie
Ronnie
apa-apaan?!?
Ronnie
apa yang terjadi
Sage
…Ceritanya panjang, Ronnie.
Sage
Ayo kita bertemu setelah bekerja
Sage
Setelah jam kerjamu tentunya
Ronnie
maafkan aku sage
Ronnie
ini sangat kacau
Sage
Sepertinya itu akibatnya karena aku ingin bercinta dengan bos
Sage

“Dasar bajingan!”

Itu saja yang Ronnie terus katakan berulang-ulang saat kami bertemu di mal luar. Belanja adalah salah satu hiburan favorit kami. Dan juga pengalih perhatian yang baik dari semua masalahku.

Jangan salah paham. Aku bertanggung jawab penuh atas semua perilaku tidak profesional yang aku lakukan, tetapi orang gila macam apa yang memberikan karyawannya orgasme yang luar biasa, lalu setelah itu mengambil pekerjaannya?

Heinrich sialan…

Kau pikir bisa menggodaku hanya karena kau punya…

Mata menawan.

Aroma tak tertahankan.

Tubuh bak dewa Yunani.

Suara menggelegar.

Penis besar.

Gaya keren.

Sikap tenang.

“M” untuk miliarder setelah nama belakangmu.

SIALAN! Aku harus mencari kamar mandi dan mengganti celana dalamku. Sejak mulai memikirkan Tn. Heinrich terus menerus, aku selalu membawa ganti.

“Dasar bajingan!” Ronnie berkata… lagi.

“Ron! Kau telah mengatakan hal yang sama berulang kali. Katakan sesuatu yang aku tidak tahu.”

“Yah…kau tidak tahu kalau aku akan menikah, kan?” dia bertanya, memberiku berita besar.

“APA?”

“Dan aku akan pindah ke London.”

“BENARKAH?”

“Ya.”

Aku tercengang.

“Ibuku baru saja menandatangani perjanjian untuk perjodohanku. Aku akan kembali ke London untuk menikah dan tinggal bersama suamiku, untuk memiliki cucu yang seharusnya aku berikan kepadanya bertahun-tahun yang lalu, begitu katanya kepadaku.”

“Ibumu menakutkan.”

“Yah, dia membuat Drakula terlihat seperti Big Bird,” Ronnie setuju.

“Jadi?! Siapa dia? Apa-apaan ini? Bagaimana aku bisa tidak tahu tentang hal ini? Beri aku detailnya.”

“Kau ingat pria yang sudah membuatku kehilangan keperawananku di London?”

“Orang Arab itu?”

“Ya, sebenarnya aku sudah bertunangan dengannya sejak berusia lima tahun. Satu-satunya kesamaan yang kami miliki adalah kami berbicara bahasa Punjabi dan memiliki gairah seks yang tak terpadamkan.”

“Punjabi dan seks. Apa lagi yang kau butuhkan?” kataku sambil bercanda.

“Tepat sekali.”

Ronnie bersandar. “Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Setelah ibuku menyampaikan kabar tersebut kepadaku, aku bermimpi tentang Rama dan Shinta yang datang dan memberitahuku tentang pentingnya pernikahanku. Awalnya, aku memaki dia dan leluhurnya. Aku ini wanita modern. Aku bisa menikah dengan siapa saja yang aku inginkan. Namun, kemudian aku bertemu Jav dan…”

“Jav? Apakah dia Hindu juga?”

“Sebenarnya Muslim. Kurasa orang tuaku berpikir orang berlawanan justru akan saling tertarik.”

Karena aku sudah kenal ibu Ronnie, kedengarannya ini bisa berujung pada bencana, tapi aku hanya mengangkat bahu dan membiarkannya melanjutkan.

“Dia bukan orang yang sangat taat atau semacamnya. Maksudku, aku cukup yakin Tuhan tidak akan memaafkan setiap hal liar yang sudah dia lakukan kepadaku di kamar tidur. Dan kau juga harus mendengar cara dia berbicara…”

“Bagaimana?” tanyaku sambil mendengus.

“Ketika Jav berbicara mesum kepadaku, itu seperti… Aku bisa merasakan kekuatan kata-katanya bergetar melalui seluruh tubuhku, membuat klitorisku terangsang bahkan sebelum dia menyentuhnya. Menakjubkan. Jika saja setiap pria Muslim bisa melakukan itu, aku mungkin akan pindah agama.”

“Jav, Jav yang manis,” kataku, terkesan. “Itu tidak mungkin nama lengkapnya, kan?”

“Ha. Oded Dastaan ​​Javed Khan. Yang nantinya akan membuat namaku menjadi… Ny. Veronica Ophelia Khan.”

“Astaga, Ronnie, empat nama? Apa orang tuanya gila?”

Ronnie mendelik ke araku.

“Ronnie dan Jav!” seruku sambil menyeringai. “Terdengar bagus dan serasi.”

***

Kami melangkah keluar dari toko, tas kami penuh dengan gaun dan sepatu, ketika aku tidak sengaja menabrak seseorang.

“Aduh! Aku sangat—” Aku hampir meminta maaf dan langsung berhenti, terkejut melihat siapa itu.

Dia berbalik dan mengangkat alis, tersenyum.

Brandon Wong.

“Astaga! Apa yang kau lakukan di sini, Wong?”

Pria itu orang Asia, tingginya kurang lebih 1,9 meter, dan juga tampan sekali. Oh, dan omong-omong, kami pernah punya sejarah.

“Senang bertemu denganmu juga, Sage,” dia menjawab.

Aku selalu merasa suaranya agak terlalu feminin untuk seleraku, tetapi sosok maskulinnya sudah lebih dari cukup untuk menutupi kekurangannya itu. Bagaimanapun juga, senang melihat pria yang ternyata bukan mantan bosku.

Di samping Wong adalah temannya, Bobby. Dari caranya menatap Ronnie, aku menebak dia akan mencoba merayunya.

Ronnie tidak merasakannya. Mungkin karena baru bertunangan.

“Ayo pergi,” ajak Ronnie.

Namun, sebelum Ronnie bisa meraihku, Wong menyelipkan lengannya ke lenganku dan mulai berjalan bersamaku menyusuri blok.

“Ayo,” katanya. “Kita bisa bertukar kabar dengan sangat cepat, kan, sayang? Sudah berapa lama, ya?”

“Aku bukan sayangmu. Dan aku juga tidak menghitung harinya.”

Dia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku ke arahnya.

“Aku merindukanmu. Jangan bertingkah seolah kau juga tidak merindukanku.”

Dia mulai menggerakkan tangannya ke bokongku dan mencengkeramnya dengan keras. Aku tidak bisa berbohong…

Aku terangsang, dan dia tahu itu.

Kami menghabiskan waktu bersama selama sebagian besar masa kuliahku, dan saat itu, aku tidak pernah bisa merasa cukup darinya. Dia adalah obat seksualku, dan aku kecanduan.

Kami bisa bercinta di mana-mana, di semua tempat yang tidak ditempati oleh seseorang, dan aku menyukai petualangan dan sensasinya. Namun, suatu hari aku tumbuh dewasa dan menyadari bahwa semua ini hanya seks dan tidak pernah lebih. Dan juga, hal ini tidak mengisi hatiku, dan aku sadar hubunganku pada saat itu harus diakhiri.

Tidak mudah mengakhirinya, karena pada akhirnya, kami selalu berakhir bersama lagi di ranjang. Jadi, aku memutuskan untuk menjauhkan diri darinya dengan benar-benar memotong semua komunikasinya.

Aku mengubah nomor, alamat, dan juga pekerjaanku.

Pekerjaan yang baru saja aku dipecat.

Namun, kembali lagi ke pelukan hangatnya sekarang, aku merasa rapuh saat merasakan ereksinya yang bergesekan dengan perut bagian bawahku, melemahkan tekadku.

Aku memejamkan mata. “Aku tidak bisa.”

Aku mendorong dadanya sedikit dan mengambil dua kali napas dalam-dalam. Hirup, embus. Hirup, embus.

Dia menangkap pergelangan tanganku, menariknya ke bibirnya dan mencium bagian dalamnya. Dia tahu itu adalah titik lemahku.

Hal itu selalu berhasil.

“Oke,” bisikku, sambil memandang Ronnie dan Bobby dari balik bahuku. “Asalkan kita bisa melakukannya dengan cepat.”

Kami berada di dalam Banana Republic dan hendak menyelinap ke ruang ganti ketika ponselku tiba-tiba bergetar.

Ronnie
tolong ke sini
Ronnie
pria mesum ini tidak mau melepaskan tangannya dariku
Sage
Uhhh, Ronnie…
Sage
Bisakah kau memberiku 5 menit?
Ronnie
kau serius?
Ronnie
kenapa kau dan semua temanmu selalu terangsang
Sage
Ronnie
baiklah. jangan lama
Ronnie
jalang

Wong dan aku tidak membuang waktu. Kami berpura-pura sedang melihat-lihat pakaian. Kemudian, ketika pegawainya tidak melihat, kami menyelinap ke ruang ganti.

Tuhan, betapa aku merindukan ini.

Dia merobek blusku. Secara harfiah merobeknya. Syukurlah itu bukan sesuatu yang aku hargai.

Bibirnya meluncur tepat di bibirku. Tangannya menjelajahi seluruh bagian tubuhku.

Kami tidak punya waktu banyak untuk pemanasan.

Dia mengangkatku dan mendorongku ke dinding, menarik celana jeansku ke bawah dengan kasar, dan memasukkan penisya ke dalam tubuhku. Dia mengerang dalam-dalam sampai kepalanya menengadah ke belakang.

Aku hampir berteriak, tapi dia menutup mulutku dengan tangannya untuk membuatku diam. Kami tidak ingin tertangkap dalam situasi seperti ini.

Itu adalah kenikmatan yang lezat sekaligus menyakitkan. Aku merangkul punggungnya, menekankan kuku jariku. Aku mencium aroma logam sedikit tajam, bukti bahwa aku membuat kulit punggungnya berdarah.

Aku mengangkat kakiku dan melingkarkannya di sekeliling tubuhnya, memberinya lebih banyak akses agar leluasa.

“Astaga,” hanya itu yang kudengar dari bisikannya.

Gerakannya keras, menariknya keluar lalu menghunjamku di detik berikutnya. Mengubur dirinya di dalam lipatan daging kenikmatanku.

Dia mengerang saat aku mengerang. Dia mengenai klitorisku yang sensitif ketika dia menekanku dengan tubuhnya.

“Lebih keras,” pintaku di telinganya.

Kini, kecepatan penetrasinya yang normal berubah menjadi lebih ganas dan liar, mengabulkan permintaanku.

“Jangan berhenti!” kataku, sambil setengah berteriak.

Klimaksku sudah dekat. Aku bisa merasakannya. Wong membenamkan tangan kanannya di rambut gelapku dan menariknya. Aku berteriak lagi—kali ini aku tak menahannya, tidak peduli siapa yang bisa mendengarnya—ketika punggungku melengkung, secara langsung mendorongnya lebih dalam, masuk ke dalam diriku saat otot-otot vaginaku semakin mengencang, memijit di porosnya.

Aku mulai gemetar saat orgasmeku mulai mengambil alih.

Kemudian itu terjadi. Dengan erangan lemah, aku merasa penis Wong tumbuh sedikit di dalam diriku sampai dia melepaskan orgasmenya, memandikan leher rahimku dengan air mani yang terasa panas.

Gerakannya perlahan melambat hingga benar-benar berhenti.

Dia menurunkanku. Kami berdua dengan cepat menarik dan mengenakan celana kami, setelah merapikan diri di cermin, kami melangkah keluar dari ruang ganti.

Semua orang di dalam toko itu menatap kami.

Dengan cekikikan bersama, kami berdua berlari secepatnya dan pergi menjauh, dengan sensasi orgasme yang masih tersisa.

Itulah yang aku butuhkan—melampiaskan hasratku dan mengalihkan pikiranku sekaligus dari Tn. Heinrich pada saat yang bersamaan.

Siapa yang tahu? Mungkin aku akan bertemu Wong lagi…

***

Ketika minggu berakhir, aku merasa rileks, segar, dan bugar kembali. Aku telah memberi tahu Ronnie detail sejarah seksualku bersama Wong.

Dan sementara dia merasa geli, aku pikir saat ini dia lebih khawatir tentang apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Karena sekarang aku menganggur.

Di sana-sini, bayangan Tn. Heinrich akan selalu menyerbu pikiranku. Mata birunya yang tajam, logat Jerman-nya, cara jemarinya masih terasa di dalam diriku.

Meskipun kami bahkan belum bercinta, entah bagaimana pengalaman itu masih lebih berkesan daripada kenikmatan yang kualami bersama Wong.

Namun, aku harus tetap menepisnya.

Hari ini adalah hari yang baru.

Aku ada jadwal wawancara, dan aku sudah siap untuk ini. Perusahaan baru ini langsung meneleponku segera setelah aku diberhentikan.

Aku kira sepertinya seseorang di luar sana telah memberikan rekomendasi yang baik untukku. Dan sekarang aku bisa melanjutkan langkahku lagi, menyibukkan diri dengan pekerjaan.

Aku mengenakan salah satu gaun hitam kecil yang indah, yang kubeli bersama Ronnie. Aku mampir sebentar ke tempat Wong untuk satu sesi seks kilat—untuk keberuntungan—lalu bergegas keluar untuk makan. Aku punya waktu dua jam lagi untuk bersiap untuk wawancara ini.

Untungnya, ada kafe di sudut jalan, tak jauh dari perusahaan baruku, jadi aku duduk di sana.

Dan saat itulah aku melihatnya. Melangkah ke dalam kafe seolah-olah dia tahu aku akan berada di sana. Mantan bosku. Tn. Heinrich.

Apa.

Apaan.

Ini.

Aku dengan cepat mencoba mengangkat buku menu untuk menutupi wajahku, tetapi kemudian aku sadar itu tidak ada gunanya.

Sebuah kursi bergeser saat aku mendengar seseorang duduk di seberangku. Aku yang sudah mengetahui persis siapa yang duduk di sana, langsung menurunkan menu dari wajahku.

Dia memiliki seringai sombong yang sama tergambar di wajahnya, tapi itu membuatnya terlihat jauh lebih seksi.

Kali ini aku tidak akan terangsang lagi olehnya. Tidak oleh orang yang sudah memecatku, tidak ketika aku akan melangkah menuju kesempatan wawancara yang hanya datang sekali seumur hidup.

Namun, sebelum aku bisa menghentikannya, Tn. Heinrich meraih tanganku dan menciumnya. Nyali pria ini besar sekali…

Guten Morgen, Sage,” katanya. “Lama tak jumpa.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu bagaimana cara menjauh darinya. Yang aku tahu pada saat ini adalah aku membenci pria ini dengan setiap sel tubuhku.

Aku menarik tanganku, memutuskan untuk menggunakan kata sama yang telah membuatku dipecat sejak awal.

“Guten-persetan denganmu, Tn. Heinrich.”

Namun, saat seringainya semakin melebar, aku tahu bahwa hal itu tidak akan membuatku keluar dari situasi ini dengan mudah.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?

Sang Pengganti

Jessica baru saja mendapatkan pekerjaan idaman seumur hidup, bekerja sebagai tangan kanan Scott Michaels. Satu-satunya masalah adalah Spencer Michaels, CEO lainnya—dan pria yang jabatannya akan digantikan Jessica. Ketika dia tahu tentang Jessica, Spencer berusaha keras untuk memastikan bahwa gadis itu tahu posisinya… Dan meskipun Spencer buta, tengah menghadapi perceraian, dan sosok pria yang benar-benar berengsek, Jessica tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadanya.