logo
GALATEA
(30.7K)
FREE – on the App Store

Kehidupan Alice begitu-begitu saja: dia pergi sekolah di SMA, menonton ~Gossip Girl~ dengan sobatnya, Sam, dan bekerja sambilan di sebuah restoran kecil. Tidak ada hal menarik yang pernah terjadi kepadanya—sampai pada suatu malam dia digigit serigala di tempat kerjanya saat sedang membuang sampah. Anehnya, ketika dia bangun keesokan paginya, gigitan serigala itu sudah sembuh dan dia justru merasa lebih bugar dibanding sebelumnya. Hanya saja, dia bukanlah satu-satunya yang memperhatikan perubahan ini… Si bengal, Ryder, dan anak buahnya tiba-tiba sangat tertarik kepadanya, tapi mengapa?

 

Mengejar Sang Omega – Jessica Edwards

 


 

Aplikasi ini telah menerima pengakuan dari BBC, Forbes dan The Guardian karena menjadi aplikasi terpanas untuk novel baru yang eksplosif.

Ali Albazaz, Founder and CEO of Inkitt, on BBC The Five-Month-Old Storytelling App Galatea Is Already A Multimillion-Dollar Business Paulo Coelho tells readers: buy my book after you've read it – if you liked it

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

1

RINGKASAN

Kehidupan Alice begitu-begitu saja: dia pergi sekolah di SMA, menonton Gossip Girl dengan sobatnya, Sam, dan bekerja sambilan di sebuah restoran kecil. Tidak ada hal menarik yang pernah terjadi kepadanya—sampai pada suatu malam dia digigit serigala di tempat kerjanya saat sedang membuang sampah. Anehnya, ketika dia bangun keesokan paginya, gigitan serigala itu sudah sembuh dan dia justru merasa lebih bugar dibanding sebelumnya. Hanya saja, dia bukanlah satu-satunya yang memperhatikan perubahan ini… Si bengal, Ryder, dan anak buahnya tiba-tiba sangat tertarik kepadanya, tapi mengapa?

Rating Usia: 16+

Penulis Asli: Jessica Edwards

ALICE

Malam ini biasa-biasa saja. Maksudnya, kadang kita beruntung dan kadang tidak, kan? Hari Minggu biasanya sepi di sekitar sini, tapi tidak sepi-sepi amat.

Pelanggan tetap baik dan murah hati dengan tip mereka, dan bahkan bosku, Robbie, lumayan tidak menyebalkan.

Memang dia agak malas, dan terlalu lama menatap bokongku, tapi dia tidak pernah telat bayar gaji dan membolehkanku membawa pulang sisa makanan di restoran.

Aku menatap jam tua bundar yang tergantung di dinding dan menggerutu.

Setengah jam lagi.

Aku menatap pelanggan terakhir malam itu sembari berdoa dalam hati semoga dia segera selesaikan makannya. Kuambil teko kopi dan menghampiri pelanggan itu dengan senyum yang kubuat-buat.

“Mau tambah kopinya, Pak?” Kutatap si bapak dengan memelas. Semoga saja dia tidak mau tambah.

“Tidak, terima kasih, Nak,” katanya sembari berdiri.

Aku membantunya memakai mantel dan mengambil payungnya. Dia menyodorkan uang kertas sepuluh pound dan berjalan keluar pintu tanpa sepatah kata pun.

Segera kutaruh uang tersebut di kasir dan mematikan lampu di restoran.

Aku bergegas ke dapur restoran dan menyadari ternyata hanya Terry dan aku yang belum pulang.

Dia melihat jadwal yang tergantung di dinding kantor dengan ekspresi getir.

Terry mendesah keras saat melihat tanggal dia bekerja. Dia telah bekerja di restoran ini selama lebih dari 30 tahun, dan tidak sekali pun mendapat cuti kerja.

Rambutnya mulai beruban, tapi jago sekali masak.

“Hei, Terry, pelanggan terakhir baru saja pergi. Mau kubantu menutup restorannya?”

Terry melambai kepadaku tanpa mengalihkan pandangan dari jadwal. “Biar aku yang mengunci pintu depan, tapi sebelum pulang, bisa bantu sedikit ya, Nak?”

Belum sempat kujawab, Terry mengumpulkan enam kantong plastik penuh sampah dan menjatuhkannya ke kakiku.

“Dibuang ke tempat sampah?” tanyaku. Kukumpulkan keenam kantong plastik itu, tiga kantong di masing-masing tangan, dan menatap Terry.

“Tolong, ya?”

Dia meraih jaketnya, melambai kepadaku, dan pergi.

Aku menatap pintu yang berayun, tercengang, dan menggelengkan kepalaku.

Aku bergegas lewat jalan belakang menuju tempat sampah. Ternyata hujan turun lebat sekali. Sialan.

Pas sekali. Terima kasih, Terry. Mantap.

Kubuka tutup atas tempat sampah dan saat hendak memasukkan dua plastik sampah pertama, terdengar suara samar-samar, tetapi jelas itu suara geraman.

Aku membeku, apakah aku tidak salah dengar?

Rasa takut menyergapku. Aku mencengkeram kantong-kantong itu erat-erat dan berbalik. Aku menggenggam erat kantong plastik itu di tangan seperti menggenggam pedang, siap menyerang.

Saat kubuka mata, tampak jelas dari mana geraman itu muncul. Tidak sampai dua meter dariku, tampak seekor serigala besar, paling besar yang pernah kulihat.

Aku dicekam ketakutan dan mulai mundur perlahan-lahan, rasanya hilang nyali dan keberanianku. Punggungku menyentuh tempat sampah dan aku tidak bisa ke mana-mana lagi.

Aku gemetar ketakutan. Kututup mataku dan berdoa semoga serigala ini tidak menganggapku sebagai ancaman yang bisa memancingnya untuk menyerang.

Lebih parah lagi kalau serigala ini menganggapku sebagai mangsa untuk dia santap.

“Tolong jangan sakiti aku,” aku berbisik kepada diriku sendiri berulang-ulang.

Kemudian kubuka mata. Seharusnya tidak, tapi tetap saja kubuka mataku.

Mata serigala itu akan menghantuiku seumur hidup. Mata serigala itu merah darah, penuh kebencian, memandang lurus ke arahku.

Badannya berwarna keabu-abuan dan tampak ada sebagian bulunya yang hilang, seperti bekas dicabut dengan paksa.

Tubuh serigala itu penuh bekas luka. Bagaimana bisa serigala ini masih hidup dengan begitu banyak bekas luka seperti itu?

Aku menjatuhkan diriku, berlutut di lantai yang basah karena hujan. Hanya itu yang terpikirkan. Semoga serigala itu menganggapnya sebagai bentuk penyerahan diri, bahwa aku tidak berniat menyerangnya.

Serigala itu melolong dan menerjangku.

Aku menjerit saat serigala itu menyergapku, tapi kemudian dia berlari ke semak-semak dan menghilang. Aku melihat ke arah serigala itu berlari dan mulai tertawa histeris.

Apa-apaan…?

Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba berdiri. Baju kerjaku benar-benar berantakan.

Kuperiksa badanku dan ternyata baju kerjaku terkoyak di bahu kanan.

Kok bahuku sakit sekali?

Sepertinya ada yang tercerabut dari bajuku.

“Aduh!” Aku mengerang kesakitan saat menyentuh bahuku. Tanganku berlumuran cairan pekat berwarna merah.

Darah! Apa aku digigit!?

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan apakah aku benar-benar digigit.

Aku benar-benar terguncang. Kulemparkan kantong-kantong plastik sampah tadi ke tempat sampah, kemudian mengambil tas, mengunci pintu, dan pulang.

Hujan tidak lagi turun saat aku berjalan menyusuri kegelapan malam itu. Aku menengadah, memandangi langit malam dan melihat bulan sedang penuh…bulan purnama.

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

2

ALICE

Setiba di sekolah keesokan paginya, pikiranku penuh dengan kejadian semalam. Aku bangun lebih awal untuk memeriksa apakah kejadian semalam benar-benar terjadi, dan ternyata benar. Adanya bekas gigitan berarti kejadian semalam benar-benar terjadi.

Akibatnya, aku tidak bisa tidur. Sama sekali tidak bisa tidur. Tidur ke arah kanan benar-benar sakit.

Kalau bisa tidak usah ke sekolah pagi ini.

Aku berjalan ke lokerku hendak mengambil buku bahasa Inggrisku, dan saat itulah aku mendengar sahabatku memanggil namaku dari ujung lorong sana.

“Alice! Kamu menonton Game of Thrones semalam?”

Sam adalah orang yang paling tidak peduli dengan pendapat orang lain terhadapnya.

Sedangkan aku? Kebalikannya. Aku terlalu khawatir akan pendapat orang lain.

Ketika Sam sudah sampai, dia berdiri berkacak pinggang menunggu jawaban.

“Bagaimana? Kamu menonton enggak?”

Aku menggelengkan kepalaku, “Enggak, kelewatan.”

“Apa? Bisa-bisanya kelewatan? Kamu tahu kalau yang semalam itu episode terakhir, kan!” dia berteriak histeris kepadaku.

“Sam.” Aku memberi isyarat tangan agar Sam menurunkan volume suaranya. “Kita dilihat orang.”

“Memang kenapa? Masa bodoh orang mau bilang apa.”

Dia tidak memberiku kesempatan untuk menjawab. Sebaliknya, dia berbalik dan melototi semua orang yang melihat ke arah kami.

“Apa enggak ada yang kasih tahu kalau melotot itu enggak sopan? Ibuku selalu mengingatkan agar aku tidak melotot begitu ke orang lain. Enggak semua baik seperti aku..”

Dia berbalik dan mengangkat bahunya. “Sudah kubilang, masa bodoh orang mau bilang apa juga.”

Kuperiksa isi tas, ternyata kotak pensil belum kumasukkan ke dalam tas. Kubuka kembali loker saat terdengar Sam menggerutu.

“Apa kita masih dilihat?” tanyaku.

“Apa? Oh, enggak, cuma Ryder dan anak buahnya. Mereka berlagak seperti penguasa saja di sini, tapi serius, kok bisa ada cowok sekeren itu, ya?”

Setelah mengambil kotak pensilku, aku menutup lokerku dan melihat sahabatku yang sedang ternganga ini.

“Sam! Kamu kok melotot begitu? Liurmu menetes.” Kututup mulutnya, kumasukkan kotak pensil ke dalam tas dan menatap mereka.

Semua minggir dan memberi jalan buat mereka.

Tahu tidak, geng ini bisa dibilang penguasa di sekolah ini, dan jika ada satu saja anggota yang disakiti, maka seluruh geng akan membalas.

Semua orang tahu siapa mereka, dan tidak ada yang berani coba-coba dan berbicara dengan mereka, atau bahkan sekadar mendekati mereka sekali pun.

Mereka berjalan berdampingan dengan formasi tetap: Bane dan Silver di luar, dengan Kellan dan Ryder di tengah.

Bane terlihat paling menakutkan di kelompok ini. Dia memiliki wajah oval dengan mata kecil berwarna biru yang tajam. Mulutnya penuh dan tegas, membentuk seringai.

Kulit cokelat keemasannya yang hangat menonjolkan tubuhnya yang besar dan berotot. Rambutnya tebal, hitam, dan disisir ke bawah dengan kedua sisi kepalanya dicukur.

Dia juga memiliki berewok lebat hitam yang menghiasi wajahnya. Wajah berewok ini memberi kesan tidak garang, karena dia justru tampak seperti boneka beruang tua nan besar.

Namun, jika desas-desus itu benar, jangan sekali-kali menyinggung hal ini dihadapannya–bisa-bisa masuk rumah sakit dihajarnya.

Dia memakai kaus oblong yang rendah sampai bulu dadanya kelihatan. Kalung hitam panjang menggantung di lehernya.

Kalung itu terbuat dari tiga lingkaran yang saling terkait, kalau tidak salah disebut triskelion. Dia memakai jins hitam ketat dengan sepatu bot bertumit rendah warna hitam.

Selanjutnya, aku melihat ke arah Silver, yang berjalan di ujung paling kanan. Lama aku memandangi gadis ini.

Cewek-cewek pasti ingin seperti dia dan cowok-cowok pasti ingin menjadi pacarnya, tapi sudah jadi rahasia umum kalau dia jatuh hati kepada Ryder.

Hal ini terlihat jelas dari caranya tersenyum kepada Ryder, dengan susunan giginya yang sempurna dan tubuhnya yang tanpa cela. Wajahnya berbentuk lancip seperti hati dengan kulit putih pucat dan sepasang mata biru cerah.

Mulutnya penuh dan bentuknya sempurna, semakin menonjolkan bibirnya yang tampak cemberut. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit acak-acakan tergerai di bahu kirinya dan menggantung sampai pinggangnya.

Tubuhnya kecil, tapi berotot. Kabarnya dia pernah menghajar seorang atlet sekolah, setelah si atlet ini menepuk bokongnya.

Si atlet ini dilarikan ke rumah sakit dan tidak bersekolah sampai sebulan lamanya. Sejak itu, tidak ada seorang pun yang berani mengganggu Silver.

Dia mengenakan jaket kulit hitam sepinggang, dipadu celana pendek hitam polos, dan sepatu bot hitam setinggi paha.

Di antara anggota kelompok ini, Kellan tampak paling ramah. Rasanya agak aneh melihatnya bersama orang-orang ini.

Kellan memiliki wajah berbentuk oval dengan kulit putih cerah dan lembut. Matanya cokelat tua yang terlihat angker sekaligus teduh.

Wajahnya tampak datar sehingga susah menilai apakah dia sedang bahagia atau sedih. Rambut cokelat keriting membingkai wajahnya yang berbentuk sempurna.

Di telinga kirinya terpasang anting besar berwarna hitam. Kedua lengannya penuh tato bercorak artistik. Dia memakai tandu hitam di telinga kirinya, dan kedua lengannya ditutupi dengan seni warna-warni. Tubuhnya ramping, langsing tanpa lemak.

Dia mengenakan kaus oblong hitam polos berpadu dengan celana jins hitam ketat, dan sepatu kets hitam.

Kellan mungkin satu-satunya yang bisa didekati di antara keempat orang dalam kelompok ini. Dia memiliki aura kebaikan dalam dirinya yang menarik orang dan membuatnya mustahil untuk tidak menyukainya.

Aku ingat ketika dia masih bersama pacarnya.

Anna adalah salah satu gadis termanis di sekolah ini. Setiap orang di sini menghormatinya dan sangat ramah kepadanya.

Pada pagi buta setahun yang lalu, tubuh Anna ditemukan tak bernyawa di tepi sungai. Saat itulah Kellan kehilangan tambatan hatinya.

Menurut kabar, TKP ditemukannya mayat Anna tampak mengerikan seperti di film-film horor.

Tetap saja, wajar saja Kellan merasa sangat kehilangan.

“Apa istimewanya si Silver ini? Kayaknya dia punya vagina ajaib atau entahlah. Lagian, bisa saja dia ditiduri ketiganya,” gumam temanku ini tanpa mengalihkan tatapannya dari Silver.

Aku memalingkan muka dari Kellan tepat saat dia melewati kami dan menghardik sahabatku. “Sam, jangan menatap terus. Dia bisa menghajarmu. Masuk rumah sakit, tahu rasa kamu!”

“Apa? Memang dia bisa dengar?”

Aku meraih tangan Sam dan menyeretnya menyusuri lorong sekolah menuju kelas bahasa Inggris kami. Kami duduk di barisan depan, dan aku mengeluarkan buku bacaan dan menunggu Pak Daniels.

“Percaya deh, aku yakin dia sudah tidur dengan salah satu dari mereka.” Sam menunjuk dengan ujung penanya ke bagian belakang kelas tanpa melihat.

Aku menoleh ke belakang dan melihat mereka berempat duduk bersama, tapi semua bungkam.

Silver duduk di samping Ryder seperti biasanya. Dia selalu tetap di sisinya.

Aku melihat ke arah Ryder, ekspresinya tetap datar saat Silver membelai lengannya dengan mesra.

Silver terang-terangan mengagumi Ryder.

Sementara Kellan tetap diam. Dia duduk dengan siku di atas meja dan kepalanya bersandar di antara dua sikunya.

Bane duduk dengan kaki disilangkan di atas meja dan tangannya diletakkan di belakang kepala. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Saat itu tiba-tiba aku tersentak.

“Sam!” Aku berbalik dan mengenai tangan Sam sampai menjatuhkan pena yang dipegangnya.

“Aduh. Itu pena favoritku.” Dia menunjuk ke bawah ke arah lantai. “Pena ini tidak bersalah, tahu.”

“Apakah mereka seharusnya masuk kelas ini? Kenapa aku baru sadar?” Aku memiringkan kepalaku ke belakang ruangan.

“Ini sudah pertengahan tahun ajaran, jadi…seharusnya tidak. Sudah tidak boleh ganti mata pelajaran di tengah tahun ajaran begini, tapi aku juga tidak yakin. Apa mereka sempat bernegosiasi dengan Pak Daniels?” pikir Sam.

Dia mengambil penanya dan memeriksa barangkali ada yang rusak. “Omong-omong, kamu harus ganti pena ini sama yang baru. Pena ini hadiah ulang tahun.”

“Iya, iya.” Aku melihat ke arah belakang kelas lagi, dan ternyata mereka memandangiku.

Mereka benar-benar menakutkan.

Silver memiringkan kepalanya sambil menatapku dengan tatapan penuh kebencian, sementara rahang Bane berdenyut.

Aku mengernyitkan alisku dan melihat ke arah Kellan. Dia tersenyum kecil, matanya berkerut ke samping saat aku membalas senyumannya.

Dia hanya tersenyum sebentar, lalu melihat ke bawah ke mejanya lagi. Aku memalingkan mukaku ke arah Ryder, dan setelah sekian lama baru kali in aku benar-benar memperhatikannya dengan baik.

Guratan-guratan wajahnya tampak tegas. Kulit wajahnya bersih, sedikit kecokelatan. Matanya yang berwarna kehijauan seperti zamrud membuatku ingin terus menatapnya. Matanya tidak terkesan mengancam atau menyiratkan kebencian. Matanya memberi kesan kalau dia sangat penasaran.

Aku menatapnya, dan dia balas menatapku dengan seringai. Bibirnya berisi, tapi tegas.

Entah berapa cewek yang sudah diciumnya dengan bibir itu…

Setelah menyesuaikan beanie-nya, dia menyelipkan rambut hitamnya yang mengilat ke satu sisi dan menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku mengernyitkan alisku lagi. Aku bingung dan kupalingkan wajahku.

“Bajingan,” gumamku pelan.

Saat aku menghadap ke depan kelas, terdengar Ryder tertawa di belakang sana.

Gawat! Jangan-jangan dia bisa membaca gerak bibir?

“Siapa bajingan yang kau maksud tadi?” Sam melihat sekeliling ruangan mencari-cari si bajingan yang kumaksud.

Dia menunjuk kepada dirinya sendiri dengan panik. “Jika ini gara-gara pena ini, enggak apa-apa. Tidak usah dihiraukan.”

“Enggak. Bukan apa-apa. Cuma sepertinya aku enggak mau bekerja nanti malam.”

Aku mengambil buku dan membaca sekilas halaman belakangnya.

“Ketinggalan PR? Aku bisa bantu kerjakan di restoran nanti malam. Mau?”

“Terima kasih. Sepertinya masih sempat kukerjakan. Masih ada waktu.”

Aku mengeluarkan penadari kotak pensilku persis saat pintu kelas terbuka.

Apakah Pak Daniels sakit hari ini?

“Selamat pagi, anak-anak, nama saya Pak Edmund, dan saya yang akan mengajar bahasa Inggris di kelas kalian sampai akhir semester ini. Kalian pasti sedang menyelesaikan bacaan novel Wuthering Heights kan? Siapa yang mau mengawali diskusi tentang novelnya?”

Sosok guru pengganti ini menuliskan namanya di papan tulis “Oliver Edmund”.

“Di mana Pak Daniels?” tanya Sam.

“Saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan itu, Nona Frey.”

Pak Oliver berbalik dan menatap Sam dengan sikap dingin.

“Pak? Pak Daniels sudah menjanjikan hasil ujian kami hari ini,” kataku sopan.

Latihan ujian kali ini begitu penting agar aku bisa lulus ujian minggu depan.

Jika tidak lulus lagi, entah bagaimana jadinya sampai akhir semester nanti.

“Alice, bukan?”

Pak Oliver berjalan menyusuri selasar kelas sembari memegang papan yang berisi nama semua murid di kelas ini, dan memiringkan kepalanya.

“Benar, Pak. Saya Alice,” jawabku dengan suara tenang dan meyakinkan.

“Tolong selalu angkat tangan jika mau bertanya.”

Orang ini menatapku. Lalu Pak Oliver berjalan ke depan kelas, dan menunjuk ke arah papan tulis.

“Mulai sekarang, saya guru kalian semua. Lupakan segala hal yang sudah diajarkan Pak Daniels sebelumnya. Lupakan! Pak Daniels tidak akan mengajar di kelas ini lagi.”

Pak Oliver menangkupkan kedua tangannya dan menatapku. “Nah, Alice, coba baca. Bab delapan, ya?”

Pak Oliver lantas duduk di kursinya, dan memberi isyarat dengan tangannya agar aku mulai membaca.

Pak Daniels, Bapak di mana?

 

Baca selengkapnya di aplikasi Galatea!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kiamat

Savannah Madis adalah calon penyanyi yang riang dan ceria sampai keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sekarang dia berada di kota baru dan sekolah baru, dan jika itu tidak cukup buruk, dia kemudian berkenalan dengan Damon Hanley, cowok nakal di sekolah. Damon benar-benar bingung dengannya: siapa gadis bermulut pedas ini yang mengejutkannya di setiap kesempatan? Damon tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, dan — meskipun Savannah benci mengakuinya — gadis ini merasakan hal yang sama! Mereka membuat satu sama lain merasa hidup. Namun, apakah itu cukup?

Rating Usia: 18+ (Konten Seksual Eksplisit, Kekerasan)

Perantara yang Menawan

Zoey Curtis sangat ingin berhenti dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari bosnya yang berengsek! Namun, ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten miliarder playboy bernama Julian Hawksley, dia tidak siap dengan hasrat kerinduan yang tumbuh dalam dirinya…

Rating Usia: 18+

Penulis Asli: Mel Ryle

Ditandai

Sejak hari kelahirannya, Rieka telah dikurung pada malam hari oleh keluarganya, tidak dapat memenuhi satu keinginannya: melihat bintang di malam hari.

Sekarang, 20 kemudian, dia menyusun rencana untuk menyelinap keluar dengan teman-temannya, tetapi dia tidak tahu bahwa tindakan pemberontakan sederhana ini akan mengubah hidupnya selamanya dan menempatkannya dalam incaran seorang Alpha yang tidak akan melepaskannya.

Ditemukan

Hazel Porter sudah sangat bahagia dengan pekerjaannya di toko buku dan apartemennya yang nyaman. Namun, ketika pertemuan mengerikan menjeratnya ke dalam pelukan Seth King, dia baru menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup—JAUH lebih banyak! Dia dengan cepat didorong ke dunia makhluk gaib yang dia tidak tahu ada, dan Seth berada tepat di tengahnya: alpha yang garang, tangguh, menawan, yang tidak menginginkan apa pun selain mencintai dan melindunginya. Namun, Hazel adalah manusia biasa. Bisakah hubungan mereka benar-benar berhasil?

Si Keily Gendut

Keily selalu berukuran besar, dan meski merasa tidak aman, dia tidak pernah membiarkan hal itu menghalanginya. Setidaknya sampai dia pindah ke sekolah baru di mana dia bertemu dengan keparat terbesar yang pernah ada: James Haynes. Lelaki itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok berat badan Keily atau menunjukkan kekurangannya. Namun, masalahnya… orang-orang yang mengatakan hal-hal paling kejam sering kali menyembunyikan masalah mereka sendiri, dan James menyembunyikan sebuah rahasia BESAR. Dan itu adalah rahasia tentang Keily.

Menyelamatkan Maximus

Ketika Leila kembali ke kampung halamannya untuk menjadi dokter kawanan, dia mendapati dirinya terjebak di antara masa lalu dan masa kini—dan cinta dari dua pria—rekan dokter yang tampan dan seorang alpha yang memiliki rahasia. Namun, siapa yang akan membuat jantungnya berdegup lebih kencang?

Buas

Kami hanya berbicara dengan satu bahasa. Seks.

Dia memegang rambutku, tubuhku dipeluk dengan erat di lengannya yang lain. Aku sudah sangat basah di bawah sana, hingga tidak yakin apakah bisa menerima penetrasinya jika dia masuk ke dalam tubuhku.

Dia membuatku terbungkuk di atas meja dengan agresif, hal ini justru menyebabkan libidoku semakin memuncak. Aku bisa merasakan kejantanannya yang keras memijat belakang bokongku.

Aku menghela napas dengan gairah. Membutuhkannya. Di sini. Saat ini…

Menikahi Sang CEO

Seorang pelayan restoran yang berjuang untuk merawat adiknya yang sakit mendapat tawaran yang tidak bisa dia tolak. Jika dia bersedia menikahi CEO yang kaya dan dominan, serta memberinya ahli waris dalam waktu satu tahun, sang CEO akan membayarnya satu juta dolar dan membantu adiknya mendapatkan operasi yang dibutuhkan. Akankah kehidupan di kastil menjadi siksaan, atau bisakah dia menemukan kebahagiaan? Bahkan mungkin cinta?

Tamu Alpha

Georgie telah menghabiskan masa hidupnya di kota pertambangan batu bara, tetapi baru setelah orang tuanya meninggal di depan matanya, dia menyadari betapa kejam dunianya. Tepat ketika dia berpikir bahwa tidak akan ada hal yang lebih buruk, remaja 18 tahun itu tersandung masuk ke wilayah kawanan manusia serigala penyendiri, yang dikabarkan merupakan pemilik tambang. Terlebih lagi, alpha mereka tidak terlalu senang melihatnya…pada awalnya!

Diculik oleh Jodohku

Belle bahkan tidak tahu bahwa manusia serigala itu ada. Di pesawat menuju Paris, dia bertemu Alpha Grayson, yang mengeklaim dia adalah miliknya. Alpha posesif itu menandai Belle dan membawanya ke kamarnya, di mana dia berusaha mati-matian untuk melawan gairah yang membara di dalam dirinya. Akankah Belle tergoda oleh gairahnya, atau bisakah dia menahan hasratnya sendiri?